“Dan yang
menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan
dengan air itu negeri
yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS.
Az-Zukhruf : 11)
Alhamdulillah,
musim hujan datang lagi. Di pedesaan, bila hujan mengguyur, para petani
bersorak ria sebab kedatangan hujan menjadi signal ladang akan subur, tanah menjadi
gembur, ditumbuhi tanaman-tanaman hijau yang subur. Sebab hujan menyuburkan. Kita
pun akan mudah melihat bocah-cocah berlarian menerobos hujan, berkejaran
menantang dingin. Mereka menikmati hujan tanpa harus tahu hikmat turunnya. Bila
sesekali terdengar “kelakar” petir, mereka berhamburan mencari tempat berteduh.
Setelah itu, seperti menantang maut, mereka kembali menerobos ribuan hingga
jutaan tetes air sambil bernyanyi ria memekikkan kegembiraan.
Anda pernah
merasakan nikmatnya mengguyur diri di bawah hujan? Teramat sayang bila
ditinggalkan. Suasana hujan dan keceriaan anak-anak desa selalu mengingatkan
kampung halaman.
Merasakan
guyuran hujan di bawah pelepah pisang di desa tentu berbeda jauh suasananya di
perkotaan. Tempat berteduhnya saja sudah beda. Di perkotaan, bila hujan datang,
susah menggelayut. Hujan bagi sebagian orang menghambat kerja karena harus
berlaga menantang kuyup saat berangkat ke kantor. Di sisi lain, anak-anak
sekolah jadi terhambat pulang pergi ke sekolah untuk sekadar mendengarkan guru
berceramah di kelas. Malah banyak sekolah yang kebanjiran.
Hujan,
guyurannya begitu memesona. Titik-titik air berjatuhan dari langit bak
meteor-meteor kecil berserakan menuju ke bumi. Setiap tanah kerontang yang
dihinggapinya menjadi subur. Ranting-ranting kering nan bisu menjadi basah.
Pohon-pohon sekarat jadi sehat. Lihatlah ke atas langit, begitu indah
titik-titik air berkompetisi menuju bumi hanya untuk menginjak bumi pertiwi kita.
Hujan, saya sangat
menikmati hujan. Saat menyerbu, atap-atap rumah melantunkan melodi yang indah,
lebih indah dari musik-musik modern dan klasik. Asli tanpa rekayasa.
Secara
maknawi, hujan berarti tanda bahwa makhluk bumi harus berteduh. Hujan merupakan
rahmat dari Allah. Sebab itu kita dianjurkan berdoa, “Ya Allah, berikanlah
kebaikan dari hujan ini.” Ya, daripada mencaci maki hujan, lebih baik berdoa
meminta keberkahannya.
Ada model
manusia yang menganggap hujan sebagai kesialan. Hujan menghambat produktivitas
kerja, menghalangi kegiatan di luar rumah. Bahkan tidak sedikit yang menggerutu
karena hujan. Padahal, hujan ciptaan Allah. Mencacinya berarti mencaci
penciptanya. Hujan datang bukan karena keinginannya, sebab hujan bukan buatan
manusia. Hujan bisa diprediksi melalui ilmu pengetahuan modern, tapi tidak bisa
diciptakan oleh tangan kerdil manusia. Adapun hujan buatan, itu upaya lemah
manusia sebab tidak ada hujan buatan yang melingkupi segala tempat di bumi ini.
Subhanallah,
Maha Kuasa Pencipta hujan.
Bagaimana
proses terjadinya hujan? Jika proses terjadinya mudah dan dapat dijalankan oleh
mesin buatan manusia, tentulah kecanggihan teknologi sekarang bisa menjadi
‘tuhan’. Namun, hal itu tentu mustahil. Perkembangan teknologi, bagaimanapun
canggihnya, sampai kiamat tidak akan pernah bisa menjadi tandingan kekuasaan
Allah.
Bagi Allah,
sangat mudah mendatangkan hujan. Dia hanya berfirman, “Jadilah, maka jadilah!”
Mudah bagi-Nya. Allah secara tegas berfirman mengenai penciptaan hujan ini, “Allah,
Dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah
membentangkannya di langit menurut yang dikehendakinya, dan menjadikannya
bergumpal-gumpal, lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka
apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya,
tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum : 48) Jadi, bergembiralah dengan
datangnya hujan.
Lalu
bagaimana efek hujan yang kita lihat dewasa ini? Hujan mendatangkan kerusakan
di mana-mana dari pelosok desa yang sangat terpencil hingga jantung kota di
tanah Jawa. Bukan hanya menggenangi sawah ladang, efek hujan pun menenggelamkan
rumah-rumah dan perkantoran, merusak kendaraan yang reok hingga yang mentereng.
Hujan tidak kenal merk apalagi rupa. Sekali mengguyur, itu berarti semua harus
‘keok’.
Syukuri
hujan, jangan mencaci maki. Sangat baik menjadi renungan, mengapa hujan tampak
‘jahat’ kepada manusia padahal ia diciptakan untuk ‘menyuburkan’ bumi dengan
segala isinya. Jika terjadi banjir itu ulah manusia; membuang sampah tidak pada
tempatnya, mengikis lahan hijau menjadi bangunan megah, sumber-sumber serapan
air berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit sehingga saat hujan air mencari
tempat-tempat menggenang di tengah permukiman. Salah siapa?
Pernah
melihat bundaran HI di Jakarta digenangi air hujan? Jangan salahkan penguasa,
lihat ke dalam diri, apa yang sudah kita lakukan pada bangsa ini. Lebih parah
lagi, kini fenomena banjir hampir rata di seluruh daerah di Indonesia. Salah
siapa? Entahlah, tulisan ini dibuat bukan untuk mencari kambing hitam apalagi
sampai menggurui para pembaca.
Sebagai
kesimpulan, mari menikmati hujan sebagai rahmat dari Allah. Benahi diri, benahi
lingkungan, benahi masyarakat, dan benahi bangsa yang kita cinta. Selama
hujannya masih hujan air, alhamdulillah. Nah, kalau hujannya bukan air; hujan
ikan, hujan darah, hujan batu, atau bahkan hujan meteor, bagaimana jadinya
negeri ini?
Bersyukurlah.
Jangan caci maki hujan.
....



