Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts
Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts
Bicara soal pesek, sepertinya banyak orang yang akan tersinggung. Kalau mau jujur, pesek itu keren, sumpah. Ya, saya tidak mengada-ada. Jangan bayangkan pesek hanya persoalan hidung yang mundur ke belakang karena gravitasi, atau ciut karena cuaca. Pesek itu lebih keren daripada mancung. Tidak percaya? 

Lihat saja kucing anggora, sudah pesek, mahal pula harganya. Lah, membandingkan manusia dengan kucing nyambung di mananya? Baiklah, sebelum terlalu jauh, saya ingin mengulas sedikit banyak tentang kerennya pesek ini. 

Semoga tulisan itu dapat menggairahkan kehidupan manusia-manusia pesek yang mungkin seperti sebagian orang yang membaca tulisan ini. Saya berharap, ulasan berikut dapat memberi semangat kepada setiap manusia pesek, atau mungkin manusia-manusia yang sering dikerdilkan karena berkekurangan dalam hal penampilan lahiriah.

Sejak kecil, lingkungan membentuk persepsi kita bahwa orang pesek itu jelek, tidak menarik, kurang disukai, tetapi juga lucu. Sementara yang memiliki hidung mancung selalu dianggap lebih keren, tampan, cantik, dan gelar-gelar keren serupa. Padahal, tidak ada aturan baku mengapa hal tersebut bisa mewujud menjadi hukum sosial. Yang pesek kalau ditonjok tidak akan patah hidungnya. Nah, yang mancung?

Melalui tulisan ini, sejatinya saya ingin mengangkat harga diri orang-orang yang dimarginalkan hanya karena persoalan kurang menarik dari segi penampilan, baik yang berkaitan dengan pesek, cebol, kurus, pincang, ataupun yang penyakitan. Pertanyaan yang paling sederhana, adakah orang yang mau dilahirkan dalam keadaan tidak menarik? Ini pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab.

Yang wajib dipahami adalah, bahwa kehidupan manusia saat lahir berkaitan besar dengan kehendak Allah. Ada yang berspekulasi bahwa sebagian hasil kelahiran anak dipengaruhi oleh sifat dan karakter orang tuanya. Entahlah. Saya tidak punya argumentasi mengenai hal tersebut. Manusia lahir karena ditakdirkan, dan mati pun karena ditakdirkan. Jadi, baik pesek ataupun mancung, tidak ada bedanya. Yang beda itu hanya persoalan takwa, takwa di dalam hati dan implementasinya dalam perbuatan. Nah, begitulah yang kita pelajari dalam syariat Islam.

Polemik yang paling mendasar, mengapa orang-orang yang berkekurangan selalu menjadi bahan ejekan? Padahal, baik buruknya seseorang bukan ditinjau dari tampilan fisik saja, bukan? Sebenarnya hal ini hanya persoalan iman. Kalau iman kita sehat, akhlak di lisan, mata, dan tindakan juga sehat. Kalau iman kita lesuh, lisan menjadi tajam, tatapan mata tidak terkendali, tindakan pun bisa jadi biadab.

Renungkan kisah Julaibib, seorang lelaki hitam yang sangat tidak menarik, miskin papa pula, tak seorang pun yang mau menikahkan anak perempuannya dengan Julaibib karena dia tidak memiliki apa-apa, rupa wajahnya pun tidak setampan para model. Namun, dibalik kekurangan itu, Julaibib memiliki tempat di hati Rasulullah. Rasulullah begitu mencintainya sebagai seorang hamba Allah dan sebagai sahabat beliau. Apakah Anda juga sudah dicintai oleh Rasulullah? Ini patut kita renungkan.

Kisah Abdullah Ibnu Mas’ud pun tidak kalah menarik. Apakah Ibnu Mas’ud termasuk kategori sahabat Rasulullah yang tampan, gagah, menarik? Tidak. Sebagian orang menertawakan dan mengejeknya karena tampilan fisiknya. Betisnya kecil yang membuatnya diejek. Rasulullah kemudian memberikan pembelaannya kepada Ibnu Mas’ud. Ketika Ibnu Mas’ud ditertawakan oleh sekelompok orang, Rasulullah mengingkarinya dengan bersabda, “Mengapa kalian tertawa? Sungguh Kaki Abdullah (Ibnu Mas’ud) lebih berat timbangannya di Mizan daripada Gunung Uhud.” Subhanallah. 

Apakah fisik yang kita miliki; tangan, kaki, lisan, bahkan mungkin amalan kita ada bandingannya dengan nilai kaki Ibnu Mas’ud?

Bagaimana dengan pesek? Sudahlah, pesek atau mancung, keduanya baik selama kita beriman kepada Allah dan Rasulullah. Segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia memang merupakan ujian. Adakah kita termasuk orang yang mensyukuri atau orang yang mengufuri? Tidak ada sejarah bahwa orang mulia selalu diukur dari tampilan fisiknya. Adakalanya, imanlah yang menempati posisi nomor wahid dalam memuliakan seseorang, dan begitulah semestinya sebab Allah tidak menerima apapun dari seseorang melainkan karena keimanannya.

Semoga ulasan singkat ini memberikan penyadaran kepada kita bahwa mencela seseorang hanya karena tampilan fisiknya tidaklah beradab, dan bukan termasuk akhlak yang baik.

Pesek itu keren asalkan kita menunaikan hak-hak Allah, sebaliknya mancung itu tidak kerena kalau suka mencela orang-orang pesek meskipun mereka mengaku sebagai orang beriman. Mengapa? Ya, karena orang beriman itu memperlakukan saudaranya dengan baik, tidak mencelanya, dan menjaga kehormatannya.
Semoga bermanfaat.
Rasanya, saya ingin menumpahkan semua uneg-uneg saya tentang sahabat. Saya sangat senang memiliki sahabat. Bahkan kalau bisa, saya ingin menkadikan setiap orang yang saya temui sebagai sahabat sejati saya.

Saya memiliki banyak kawan, namun tidak semua kawan itu sahabat. Bagi saya, sahabat lebih dari seorang kawan, bahkan kadang lebih akrab dari saudara. Mungkin Anda, dan orang-orang yang punya sahabat merasakan itu. Ada banyak perbedaan; baik rasa maupun semangat ketika bertemu sahabat, amat berbeda bila bertemu kawan biasa.
Sejumlah sahabat memiliki perangai berbeda. Pada perangai itulah tertanam karakter yang beragam pula. Perangai dan karakter apa bedanya? Ah, bukan di sini tempat menjelaskannya. Saya ingin mengurai tentang sahabat bukan tentang bahasa :-)
Apa yang menarik dari seorang sahabat? Banyak, kawan. Banyak hal yang kadang sulit diterjemahkan dengan melakoni setiap kisah kehidupan bersama sahabat. Kata-kata, kadang tidak cukup ditumpahkan dalam buku catatan harian. Banyak kisah bersama sahabat, dari kisah pilu sampai kisah lebay. Kau pernah mengalaminya? Kau semestinya memiliki sahabat agar kau merasakan kisah hidup yang “lebih seru”, tentunya. Sahabat itu, ah, gimana gitu :-)
Sosok sahabat yang begitu berkesan dari pengalaman hidup saya, sebut saja si A. Usianya menginjak kepala empat, namun keramahannya sering membuat betah ketika ngobrol. Sahabat yang satu ini sangat tawadhu. Perangainya santun dan selalu menghargai orang lain, baik tua atau muda. Mencari-cari aib orang bukanlah sifatnya. Ya, jelas berbeda dengan orang kebanyakan yang gemar menggunjing orang lain. Pernah, suatu waktu di musallah, sahabat ini memimpin salat jamaah. Apa yang terjadi saudara-saudara? Beliau yang juga suka menghapalkan Alquran ini menangis tersedu ketika membaca Alquran dalam salatnya. Itu tentu bukan hal biasa bagi banyak imam salat di luar sana. Juga tidak biasa bagi saya.
Sosok sahabat yang “tua” di atas idealnya menjadi contoh bagi banyak kawan yang baik. Akhlaknya selalu menjadi teladan dalam kehidupan. Kehadirannya selalu dirindukan :-) yang paling berkesan ketika belaiu membantu orang tanpa tanda tanya. Maksudnya tanpa pamrih, begitu. Nah, semoga Anda juga memiliki sahabat sejati seperti itu, amin.
Ada sosok sahabat lain. Mungkin tidak sebaik dari yang pertama tadi. Namun, patut juga menjadi contoh pada beberapa karakternya yang baik. Perlu menjadi catatan, setiap manusia punya sisi baik dan sisi buruknya, bukan? Nah, ada baiknya kita ungkap yang baik saja agar tidak menjadi gibah bagi pembaca tulisan ini.
Sahabat ini, sebut saja si B, usianya masih muda. Terbilang lebih muda dari saya. Ya, kepala dua, alias dua puluhan. Karakternya memang “keras” dalam pengertian gigih dalam memperjuangkan keinginannya. Apa yang dimimpikan harus digapai, baik dalam rentang waktu dekat atau pun lama. Sosok sahabat ini selalu tampil ceria di hadapan kawan-kawannya. Mudah bergaul dan open mind kepada siapa saja, khususnya kepada orang yang baru ditemuinya.
 

Hal paling berkesan, ketika sahabat ini jatuh sakit. Menurut petuah, ketika seseorang sakit, hendaklah kita menjenguknya agar terjalin ikatan persaudaraan yang lebih kuat. Begitu barangkali. Mungkin Anda pernah sakit. Ketika dijenguk oleh teman, bagimana perasaan Anda? Rasanya ada kebahagiaan dalam jiwa. Terbersit rasa ada yang memerhatikan, ada orang yang peduli di tengah banyaknya orang yang cuek bebek. Momen seperti itulah yang sering memunculkan kesan yang kuat agar rasa kasih dan rasa sayang lebih membekas. 

Setelah kunjungan itu, dan Anda jadi sehat kembali, maka terjalinlah persahabatan yang lebih erat. Begitulah, saya mengalaminya :-)
Sulit menggambarkan kebaikan sahabat yang satu ini, namun demikianlah adanya. Setiap kebaikan akan mendatangkan kebaikan yang lain, baik dihargai atau dilupakan. Menjadi pribadi yang baik sangat penting dan dibutuhkan dalam menjalin persahabatan. Dari baiknya akhlak itu, pergaulan akan lebih menyenangkan. Oh, indahnya persahabatan dengan orang-orang yang baik. Semoga sahabat Anda demikian adanya.
Kisah persahabtan dengan sosok si B ini menjadikan saya dengan dia seperti saudara. Kawan-kawan mengatakan, kami seperti adik dan kakak :-) bila itu positif, diterima saja. Kau tahu kawan, berbagi makanan sudah biasa bagi kami. Ketika sakit saling menjenguk. Ketika butuh pertolongan saling membantu. Ketika tidak hadir dalm suatu lawatan, saling mencari. Kehadirannya selalu dirindukan. Mungkin demikian ikatan kuat persahabtan itu saya rasakan. Semoga sahabat seperti ini semakin banyak, amin.
Banyak sahabat lain yang tidak bisa saya dekripsikan dalam catatan kecil ini. Bagi saya, mereka adalah orang-orang biasa yang luar biasa sebab mereka selalu hadir ketika dibutuhkan, dan sering menjadi penguat ketika sedang “galau” tingkat tinggi.
Temukanlah sahabat terbaikmu! Setiap manusia idealnya dapat menjadi sahabat terbaik. Tempatkan diri sebagai orang yang terbuka dalam menerima kritik. Tetaplah santun dalam bernasihat. Tetaplah sabar dalam menerima kekurangan sahabatmu. Doakan mereka yang mungkin sering khilaf menyakiti perasaanmu. Begitulah.
Sahabat bagi saya, kawan terbaik menuju surga. Sahabat itu dapat menjadi wasilah agar kita meraih surga, insya- Allah. Sahabat itu, everything J Mengapa? Ya, kau tahu kawan, rasulullah pun memiliki banyak sahabat terbaik dalam kehidupan belaiu, dan sahabat terbaik beliau adalah Abu Bakar RA.
Temukanlah sahabat terbaikmu! 

Salam sahabat :-)
Koran atau surat kabar pertama di Indonesia tampil pada pertengahan abad ke-18. Itupun diterbitkan oleh Belanda dan berbahasa Belanda. Kalau anda hadir di zaman itu, itu berarti anda semestinya harus bisa berbahasa Belanda untuk bisa membaca koran. 
Koran yang notabene digunakan sebagai media informasi, pertama kali hadir di Indonsia dengan nama Warta Berita yang konon terbit pada tahun 1901. Ngiming-ngiming, eh ngomong-ngomong kalau membahas tuntas tentang korang cukup panjang juga. Persis seperti membaca koran, panjaaaang tulisannya. Membacanya bikit kesemsem, bahkan mungkin bisa kena keram, hehehe.
Saya memiliki pengalaman indah bersama koran, hehehe. Koran itu seperti istri, melihatnya saja sudah membahagiakan, apalagi menikmatinya, eh menikmati korannya maksud saya. Tuh, kan jadi salah tulis. Pada zaman dahulu kala, saya sangat suka membaca koran. Bahkan memaksa diri berlangganan setiap bulan. Kalau membaca lead tulisan pada artikel-artikel di dalamnya, mata saya seperti mendapat suplemen menyehatkan. Hahaha, boong banget  :-)
Saya dan koran punya cerita, cerita tentang kehidupan anak-anak muda yang “gemar” menganggur. Ya kalau mau terus terang, koran itu memberi banyak efek positif dalam hidup saya. Di antaranya, koran media memulung inspirasi, baik untuk tulisan yang ingin saya buat atau sekadar menambah pengetahuan dengan beragam tema dan judul tulisan di dalamnya. Gara-gara koran, saya jadi keranjingan menulis artikel dan akhirnya bisa dimuat dan dibaca orang di koran-koran. Betapa senang dna membahagiakan kala itu.
Dari koran, berbagai informasi seperti lowongan kerja juga bisa saya peroleh. Apatah lagi dahulu itu saya belum bekerja. Maka menjadilah koran sebagai media menelusuri lowongan pekerjaan dari kantor ke kantor, dari perusahaan ke perusahaan, bahkan dari sekolah ke sekolah. Begitulah, nasib pengangguran intelektual seperti saya terkatung-katung di dalam koran. Kasing bingits, hikhikhik. Namun, jangan salah, koran juga sangat berjasa dalam keberlangsungan hidup saya di alam semesta ini. Jadi, jangan salahkan koran :-)
Coba tengok, di jalan-jalan orang sibuk menjual koran, dari penjual dan pedagang kecil di emperan kota hingga warung-warung cabe di pelosok negeri. Koran itu seperti jamur, menjamur di bumi pertiwi. Bahkan mungkin tidak terbendung. Ada yang suka membaca koran, sangat suka sampai “sakit” kalau dalam sehari tidak membaca koran. Ada juga yang biasa-biasa saja, membaca koran atau tidak ya tidak masalah, yang penting masih hidup. Bagi saya, koran itu cukup sebagai pelengkap kehidupan, minimal untuk menelusuri lowongan pekerjaan. Karena koran, saya sempat beberapa kali mendapat undangan wawancara kerja walau semua ditinggalkan. Karena koran pula, saya sempat bersedih hati ketika pertama kali mendaftar pegawai negeri dan dinyatakan tidak lulus di dalam koran. Itu rasanya gimana gitu. Walau akhirnya pada tahun berikutnya, saya pun bisa jadi pegawai negeri, horeee. Taaaaapi, akhirnya resign juga.
Hadirnya koran di tengah-tengah masyarakat setidaknya juga membantu orang-orang untuk bekerja. Banyangkan saudara-saudara, penjual koran tuh banyak sekali di negeri ini. Dari pemuda samapi kakek-kakek. Nah, pernah melihat ornag jual koran tapi sudah tua? Itu mah sering saya dapatkan. Itu orang tua bertanggung jawab namanya. Bandingkan dengan banyak remaja dan pemuda, yang menjual koran pun malu-malu. Remaja dna pemuda kini, kalau jual koran bilangnya gengsi, pas ngamen bilangnya keren. Apa kata dunia?
Anda bisa telusuri koran yang setiap hari terbit. Beragam informasi dapat kita peroleh dengan mudah, bahkan hanya membuaka lembaran demi lembaran dengan harta relatif mudah. Koran itu gundukan ilmu juga, walau tidak setenar Alquran. Rajin membaca koran tapi jangan lupa baca Alquran. Logikanya, menambah pengetahuan harus senantiasa berkorelasi antara akhirat dan dunia. Mengapa? Ya karena banyak yang suka dan gemar membaca koran tapi tak bisa baca Alquran. Itu kan dungu namanya. Gelar akademik tinggi, eh ngeja huruf Hijaiyah tidak bisa. Ke mana saja, Om?
Begitulah, gara-gara koran.
Baca koran jangan lupa baca Alquran. Nyari sumber ilmu dalam koran, jangan lupa ilmu dalam Alquran. Nyari lowongan, ya nyari di koran tidak masalah yang penting jangan lupa minta kepada Allah. Nah, kalau belajar menulis, bisa tuh nyari inspirasi melalui koran, seperti tulisan cerewet ini, hehe. Semua gara-gara koran. Anda suka koran?
Pernah bertemu kawan lama? Hmmm, bagaimana rasanya? Senang, sedih, atau malah kabur karena ingat utang yang belum dibayar? Hehehehe. Kawan lama itu seperti mutiara. Begitu barangkali. Kalau bertemu dalam rentang waktu yang lama, ada kebahagiaan meliputi jiwa. Apalagi kawan lama itu sahabat kita sendiri.

Ada bahagia bercampur haru, tentunya. Namun, di balik pertemuan dengan kawan lama itu, menggantung banyak pertanyaan, masihkah dia seperti dahulu? Atau, mungkin dia sudah berubah, dan tidak lagi menjadi kawan yang asyik diajak ngobrol dan tertawa bersama? Hmm, mungkin itu sudah lumrah, dan tentu saja wajar sebab perpisahan lama bisa jadi mengubah segalanya.

Alinea kedua di atas mungkin pernah menjadi pengalaman Anda, tak terkecuali saya. Namun, tetap ada rasa senang berjumpa dengan mereka. Baik dengan karakternya yang sudah mulai berubah, apalagi bila mereka masih begitu-begitu saya, atau mungkin makin ancuuuur? Walah.....

Rehat Sejenak....
Hey, apa kabar? Lama ya, kita tidak bertemu? Bagimana kabarnya, kabar keluarga? Eh, anak dan istri sudah berapa, nambah lagi kah? Sekarang kerja di mana? Ke mana saja, kok tidak pernah kelihatan? Wah, begitu senangnya bertemu kawan lama. Ini pertanyaan-pertanyaan klasik kalau jadi korban pertemuan kawan lama yang sedikit cerewet.

Atau ada juga komentar begini, wah si Budi sudah berubah ya, tidak seperti dulu lagi. Sekarang dia susah diajak ngobrol, tiba-tiba jadi pendiam. Pokoknya gak enak diajak main. Nah, ini saya pelakunya, tapi gak separah itu juga sih.

Bagi saya, bertemu kawan lama bagai mengingat kembali masa lalu. Palagi masa kecil ketika masih senang bermain gundu di lapangan. Pas waktu hujan deras pula. Wah, senang dah hujan-hujanan sambil telanjang, uppps. Kalau lagi nakal-nakalnya, lempar mangga tetangga di pohonnya. tau ngejekin si dia yang lagi jatuh cinta. Walah, masih kecil kok jatuh cinta, apa kata bapaknya?

Sebagaian kawan lama masih bisa ditelusuri jejaknya. Ada yang sudah meraih gelar tinggi, kerja di kantoran, jadi pengusaha, mungkin jadi tenaga kerja di negeri orang, hingga yang namanya sudah dikubur tanah karena mangkat.

Bertemu kawan lama ini sangat membahagiakan. Apalagi bila mereka adalah sahabat kita. Sahabat yang sangat kita cintai. Eh, ini bukan naksir-naksiran loh ya. Tapi murni persahabatan. Kalau ketemu pengennya meluk karena memendam rindu. Paling banter, ngajak makan bareng atau liburan bersama keluarga. Ya, buat seru-seruan mengenang masa lalu, mungkin masa kecil kalau dia teman bermain di kampung.

Kawan-kawan yang sudah jauh, ke mana kalian? Ayao sambangi saya di sini. Semoga kalian dalam lindungan Allah, di mana pun kalian berada, Kawan lama, kutunggu kalian di sini, di kota perantauan.



Seorang anak yang lahir beberapa pekan lalu terus menangis, menggertak kesunyian diiringi nyanyian nina bobo sang Ayah. Ya, begitulah. Hampir tiap malam, bahkan tiap tengah malam, tangisan bayi itu terus terngiang di telinga. Menghiasi kesunyian yang tak berkesudahan. Bahagia nian keluarga yang dikaruniai keturunan.

Anak, bagi orang tua merupakan harta paling berharga dalam hidup. Banyak pasangan yang bertahun-tahun hidup berumah tangga namun kehidupan mereka terasa sunyi, hampa, tanpa tangis bayi di rumah. Kendaraan mewah hingga rumah megah terasa tak punya arti tanpa anak. Apalah artinya hidup tanpa generasi?

Siapa gerangan yang tidak menginginkan keturunan? Semua pasangan, suami dan istri pastilah mendambakannya. Walau pada akhirnya, ada juga orang yang tidak ditakdirkan memilikinya. Ya, keluarga, tetangga, kawan, hingga sahabat sendiri, beberapa di antara mereka tidak atau belum memiliki anak. Semoga Allah lapangkan hatinya dan memberi mereka kelak keturunan yang baik-baik.

Setiap orang dewasa tentu pernah merasakan hidup sebagai bayi. Namun, siapa yang ingat masa itu? Saya sendiri tidak ingat bagaimana keadaan saya saat bayi. Bagimana saya menangis membangunkan Ibunda di tengah malam padahal hanya ngompol atau merengek meminta susu. Atau terisak-isak manja agar mendapat pelukan Ayahanda. Bahkan berkali-kali membuat Ayah dan Bunda terjaga karena “ngambek” tidak mau tidur hingga subuh.

Begitulah kehidupan masa bayi. Kini, mendengar bayi menangis di sebelah rumah, pikiran saya seolah digiring bernostalgia hidup sebagai bayi paling lucu sekampung, bahkan mungkin sedunia. Hidup seperti raja, hanya menangis, semua kebutuhan langusung dipenuhi orang tua. Bahkan mungkin, sesekali Ayah atau Bunda memaksakan diri berutang ke tetangga demi menghentikan tangis yang bertubi.

Dari lahir disambut tangis bahagia keluarga. Setiap orang memandang, saat itu pun berkali-kali pujian dialamatkan. Tak jarang doa-doa mereka lantunkan agar sang bayi tumbuh menjadi anak yang sehat, montok, lucu, saleh, dan sukses. Oh, betapa bahagia menjadi orang tua yang hari-harinya diindahkan dengan kehadiran pangeran atau puteri kecil di rumah tangganya.

Setiap bayi terlihat lucu dan menggemaskan. Inginnya mencium atau kalau tidak menyapih. Biar kecipratan bahagianya. Mengurus segala kebutuhannya terasa ringan walau hidup berkalung susah. Bagi sang Ayah, inginnya bersegera pulang kantror agar bisa bermain dengan bayi lucunya. Tidak jarang pula, perhatian Ibunda berkurang kepada Ayah demi melihat bayi mungilnya tersenyum atau melempar tawa. Ya, begitu senangnya punya anak.

Anda merasakannya? Ya, semoga. Saya pun belum merasakan bagaimana memiliki anak. Ingin rasanya masa itu segera tiba. Ketika anak lahir, orang-orang akan berkata bahwa dia mirip Ibu atau Ayahnya. Mungkin ada yang menyamakannya kepada kakek neneknya. Entah matanya, hidunya, bibirnya, atau bahkan lesung pipinya.

Tidak ada pasangan yang menolak anak bila “diberi” oleh Allah. Kehadirannyalah yang dinanti-nantikan. Tangisnyalah pemecah kesunyian dalam rumah tangga. Ya, semoga, semoga masa itu segera tiba. Masa ketika sang istri harus dilarikan ke rumah bidan atau dirujuk ke rumah sakit untuk segera bersalin. Masa yang dinanti selama berbulan-bulan atau bahkan ada yang menanti menghitung tahun. Masa untuk memecahkan tangis bahagia Ayah dan Bunda.

Belum memiliki anak? Janganlah berputus asa. Nabi Ibrahim dikaruniai anak diusianya yang tidak lagi muda, 90 tahun. Bahkan beberapa kasus, atau mungkin banyak kasus, seorang Ibu baru mengandung dan melahirkan anak pertamanya di usia senja. Hal itu tidak mustahil bagi Allah. Jadi, bersabarlah. Semoga kesabaran itu berbuah pahala dan mengetuk pintu langit.

Tangisan bayi itu selalu saja pecah. Itulah “pekerjaan” anak manusia. Namun demikian, para orang tua tidak pernah bosan mendengarkannya. Bagi mereka, tangisan bayi menjadi motivasi kehidupan untuk menjadi Ayah yang tangguh atau Bunda yang sabar, suplemen jiwa, dan pengubur gundah gulana.

Di awal tahun ini, di penghujung Januari 2014, dengan harap-harap cemas saya sedang menanti kehadiran tangis bayi. Tangisan seperti bayi yang selalu menggodaku di sebelah rumah milik Pak RT. Ya, Pak RT yang istrinya belum lama ini melahirkan anak ketiganya. Membuat saya cemburu. Cemburu karena juga mendambakan lahirnya bayi dari rahim istri tercinta. Bayi yang setiap waktu didoakan kebaikan hidupnya. Bayi yang diimpikan kelak menjadi penghapal dan pengamal Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi. Bayi, yang dari kerja kerasnya kelak melahirkan umat-umat terbaik di masanya. Bayi yang tidak dimiliki oleh semua orang di muka bumi. Ya, semoga.

Rabbi ‘hablii minas-shaali’hiin. Allahumma aamiin.

Ayah menantikanmu, Nak!


Kehidupan ini, bila kita renungkan memang tak ubahnya main-main. Coba kita tanya hati, apa ia bahagia dengan kelebihan dan kekurangan yang diperoleh oleh raga perihal dunia? 

Kendaraan mewah, rumah yang megah, tabungan yang wah, atau keluarga bahagia dengan segala bentuk pemenuhan kebutuhan yang selalu ada. Itu semua, yang diperoleh oleh raga, hasil kerja kelihaian tangan dan otak manusia. Puaskah sampai di situ? Tidak. Tidak mungkin puas.

Betapa banyak manusia, dengan segala prestasi yang mereka miliki, ketika meraih gunung, mereka ingin mendaki gunung yang lebih tinggi. Bila itu tercapai, konon terasa bahagia, ada kenikmatan menjalani kehidupan. Namun, berselang waktu, ia ingin mencari yang lain, ingin mendaki yang lain, memasang strategi sebaik mungkin untuk menggantung cita-cita lagi. Demikian seterusnya, angan-angan tanpa batas. Dan pada titik tertentu manusia berhenti berharap sebab dicekal oleh kematian.

Itulah kehidupan, seperti bermain, memainkan waktu. Kita jalani sesuai keinginan nafsu, entah nafsu dunia, syukur-syukur nafsu mengejar keuntungan akhirat. Manusia mendatangi kehidupan dengan tangis ketika lahir. Disambut senyum bahagia orang-orang tercinta, oleh ayah dan ibu, serta sanak keluarganya. Ia tumbuh menjadi bayi yang lucu yang digemari setiap orang yang memandang.

Berhari-hari, bulan berganti, hingga menginjak remaja. Meraih segala prestasi atas arahan orang tuanya. Kemudian tumbuh dewasa menggapai impian-impiannya. Membangun keluarga serta bekerja di tempat terbaik dengan gaji terbanyak. Sesekali menyempatkan waktu untuk bercengkerama dengan keluarga atau selang hari bercanda tawa dengan sahabat-sahabat terkasih. 

Sepertinya semua kasih sayang dan kenikmatan dunia telah diraih. Sayang, ia lupa, ia terlena, sampai tiba punggung tidak lagi tegak, kaki sudah lunglai, mata sayu dan rabun, suara tidak lagi jernih seperti saat remaja dahulu. Pendengaran sudah abu-abu. Tiba masanya ia tidak lagi mampu meneruskan impiannya. Ia wariskan apa yang dimilikinya, hasil jerih payah kedua tangannya yang lincah, buah pikirannya yang jenius. Ada masa ia harus berbagi dengan orang lain.

Kembalilah jiwa, engkau sudah jauh melanglang buana di negeri fatamorgana. Lupa berbekal untuk yang kekal. Lupa berbenah untuk istana megah di alam kekal sana. Wajah sama sekali jarang menyentuh tanah, tak pernah sujud, tersungkur mengakui dosa-dosa. Bila keadaan ini demikian berjalan seterusnya, kapankah bekal kita cukup? 

Allahu Akbar, betapa banyak orang yang segar bugar, tiba-tiba didatangi oleh kematian. Padahal ia menyangka hidupnya masih lama karena usianya terbilang muda. Kembalilah jiwa, sebab kebahagiaan hakiki bila engkau memiliki Allah di atas segalanya.



Aktivitas yang banyak setiap hari mengharuskan seseorang memiliki tubuh yang sehat dan prima. Tubuh yang sehat tidak hanya dapat diwujudkan melalui asupan makanan bergizi dan minuman sehat. Di samping berolah raga, tubuh sehat dapat diwujudkan dengan pola tidur yang cukup. Tidur merupakan satu aktivitas rehat yang harus dilakukan oleh jutaan umat manusia di atas permukaan bumi. Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya bila seseorang tidak dapat tidur dalam sehari.

Alhamdulillah, keadaan tubuh yang sehat membuat saya dapat melakukan beragam aktivitas setiap hari. Sayangnya, beberapa hari terakhir saya mengalami kesulitan tidur di awal waktu. Tidur saat tengah malam membuat tubuh saya terasa lunglai ketika bangun. Sepertinya, kondisi kurang tidur sangat berpengaruh pada kesehatan fisik.

Kurang tidur di malam hari memaksa saya untuk menyicil tidur dan melunasinya di pagi hari. Walau kenyataannya, tidur di waktu pagi selain tidak sehat juga menghambat aktivitas di hari itu. Apalagi pagi hari merupakan waktu untuk bersibuk ria dengan segala rutinitas rumah dan kantor.

Berkaitan dengan masalah tidur ini, mungkin hampir semua orang pernah mengalaminya. Bila hal ini juga terjadi dalam kehidupan Anda, berhati-hatilah, sebab itu berarti tubuh sangat rawan terkena penyakit. Dampaknya seperti buah simalakama, dimakan atau tidak sudah pasti merugikan. Artinya, tidur berlebihan tidak sehat, kurang tidur pun demikian. Maka jalan satu-satunya adalah tidur sesuai dengan porsinya, yakni saat mengantuk dan cukup waktu. Jangan memaksa diri untuk begadang hingga larut malam apalagi sampai pagi sekadar bela-belain menonton sepak bola di televisi. Kalau berdagang sampai larut, wah itu butuh pembahasan lain, hehehe.

Berdasarkan hasil penelitian dan sumber literatur kesehatan, kurang tidur berdampak buruk bagi kesehatan. Di antaranya, badan menjadi lemas, kulit kusam, mudah mengantuk di pagi dan siang hari, gangguan emosi, insomnia, serta memicu munculnya berbagai macam penyakit. Bahkan, kurang tidur di malam hari karena bergadang di luar ruangan dapat mengakibatkan seseorang terkena paru-paru basah. Hal ini terjadi karena udara di malam hari menjadi lembab yang tidak baik bagi kesehatan pernapasan. Di samping itu pepohonan di malam hari juga mengeluarkan gas karbondioksida (CO2) yang tentu juga tidak sehat bila dihirup oleh manusia.

Terus terang, sebenarnya tulisan ini saya rangkai bukan bermaksud mengurai tentang baik buruknya tidur bagi kesehatan manusia. Namun bila hal itu memberikan manfaat, alhamdulillah. Saya ingin bicara tentang sosok anak kecil yang sangat membuat saya terkesima dan merasa beruntung di dunia ini. Sesuai dengan judul di atas, saya ingin mengulas secuil tentang Rio Vicary. 

Rio Vicary adalah seorang anak kecil berkebangsaaan Inggris yang mengidap penyakit Angelman’s syndrome yakni keadaan seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk tidur, suatu penyakit genetik yang sangat langka. Hingga kini, saya belum menemukan penyakit jenis ini ada di Indonesia. Angelman’s syndrome merupakan gangguan neurogenetik yang ditandai oleh kurangnya tingkat intelektual, terhambatnya perkembangan kemampuan tubuh, gangguan tidur, kejang, dan tangan sering mengepak. Penyakit ini baru populer pada tahun 1982.

Bagaimana rasanya bila sehari kita tidak bisa tidur? Efeknya tentu sangat luar biasa bagi kesehatan tubuh. Tapi jangan salah, bocah imut yang juga tidak bisa bicara ini bahkan tidak tidur sepanjang hari yang ia lewati. Bukan hanya sehari melainkan setiap hari. Wah, wah, wah, ini bukan kehebatan namanya melainkan mengidap suatu penyakit. Jadi jangan berharap mengalami hal serupa. Mentang-mentang gak bisa tidur, malam-malam jadi rampok. Apa kata dunia?

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Profesor Amanda Sacker dari University College London, dimuat dalam Jurnal Epidemiology and Community Health  menunjukkan kemungkinan bahwa jam tidur yang tidak rutin merupakan wujud dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Anak-anak dengan jam tidur tidak teratur dan berasal dari keluarga broken home akan kurang banyak membaca di malam hari dan cenderung banyak menonton televisi. Hasil penelitian ini tentu akan memengaruhi aktivitas fisik bagi anak-anak. Namun, hal tersebut tentu berlaku bagi orang-orang yang sehat saja, tidak bagi Rio.

Kabar baiknya, dalam kondisi mengidap Angelman’s syndrome, seseorang tetap bisa hidup dengan normal, selain faktor tidur tentunya. Rio pun menunjukkan kehidupan yang normal walau dengan kondisi kesehatan yang sedikit terganggu dalam hal tidurnya. Keadaan seperti yang kita alami sekarang ini patut disyukuri dengan banyak syukur. Kita bisa tidur ketika mengantuk dan juga bisa mengatur kapan kita ingin bangun.

Banyak kisah kehidupan manusia yang memiliki hikmah luar biasa. Setidaknya, kisah kehidupan Rio Vicary dapat kita ambil hikmahnya. Kehidupan kadang tidak sesuai dengan harapan, namun pada titik itulah kita dilatih untuk banyak syukur dan banyak sabar. Sebab dengan menggerutu kehidupan tidak akan menjadi baik. Sejarah telah mencatat, orang-orang yang berkekurangan, baik fisik ataupun materi dapat hidup di tengah-tengah masyarakat dengan kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang terlalu memikirkan nasib dan berpangku tangan. 

Anda tentu pernah membaca kisah-kisah menakjubkan lainnya dari bocah-bocah “ingusan” yang dilahirkan ke dunia dengan berbagai kekurangannya namun berhasil membelalakkan mata dunia dengan prestasinya. 

Sebut saja Qian Hong Yan, seorang bocah perempuan tanpa kaki yang dijuluki “Basketball Girl”. Bocah yang hidup di Negara Tirai Bambu ini hidup dengan keterbatasan, tanpa kedua kaki namun mampu menjuarai beberapa lomba renang tingkat nasional. Ada juga Kayla Wheeler yang dengan satu tangan (buntung) mampu memecahkan rekor dunia renang. Nick Vujicic yang tanpa tangan dan kaki menjadi motivator tingkat dunia. Conner dan Cayden Long, kakak dan adik penderita celebral palsy (baca; kelumpuhan otak besar) yang menjadi peserta lomba triathlon. Wah, luar biasa. Di dunia, masih banyak orang yang dengan keterbatasannya hidup penuh warna dan prestasi.

Simpulannya, selagi kita masih sehat, manfaatkanlah kehidupan ini dengan baik. Jika Rio tidak diberi kesempatan untuk tidur, baik di malam hari maupun siangnya, maka bersyukurlah bila masih ada bulan di malam hari yang bersedia menemani lelapnya tidur kita. Matahari di siang hari juga sangat tabah mendukung aktivitas kita sepanjang waktu. Nah, sebelum kita benar-benar tidur sepanjang zaman, ada baiknya kita keluarkan kemampuan terbaik untuk berkontribusi banyak bagi kehidupan ini.

Bila sempat, tidur sianglah sejenak untuk menambah porsi sehat kita. Malam hari, tutuplah mata dengan berharap ada mimpi-mimpi indah yang dianugerahkan Allah untuk menemani kita menikmati indahnya malam.

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!