Kehidupan
ini, bila kita renungkan memang tak ubahnya main-main. Coba kita tanya hati,
apa ia bahagia dengan kelebihan dan kekurangan yang diperoleh oleh raga perihal
dunia?
Kendaraan mewah, rumah yang megah, tabungan yang wah, atau keluarga bahagia
dengan segala bentuk pemenuhan kebutuhan yang selalu ada. Itu semua, yang
diperoleh oleh raga, hasil kerja kelihaian tangan dan otak manusia. Puaskah
sampai di situ? Tidak. Tidak mungkin puas.
Betapa
banyak manusia, dengan segala prestasi yang mereka miliki, ketika meraih
gunung, mereka ingin mendaki gunung yang lebih tinggi. Bila itu tercapai, konon
terasa bahagia, ada kenikmatan menjalani kehidupan. Namun, berselang waktu, ia
ingin mencari yang lain, ingin mendaki yang lain, memasang strategi sebaik
mungkin untuk menggantung cita-cita lagi. Demikian seterusnya, angan-angan
tanpa batas. Dan pada titik tertentu manusia berhenti berharap sebab dicekal
oleh kematian.
Itulah
kehidupan, seperti bermain, memainkan waktu. Kita jalani sesuai keinginan
nafsu, entah nafsu dunia, syukur-syukur nafsu mengejar keuntungan akhirat.
Manusia mendatangi kehidupan dengan tangis ketika lahir. Disambut senyum
bahagia orang-orang tercinta, oleh ayah dan ibu, serta sanak keluarganya. Ia
tumbuh menjadi bayi yang lucu yang digemari setiap orang yang memandang.
Berhari-hari,
bulan berganti, hingga menginjak remaja. Meraih segala prestasi atas arahan
orang tuanya. Kemudian tumbuh dewasa menggapai impian-impiannya. Membangun
keluarga serta bekerja di tempat terbaik dengan gaji terbanyak. Sesekali menyempatkan
waktu untuk bercengkerama dengan keluarga atau selang hari bercanda tawa dengan
sahabat-sahabat terkasih.
Sepertinya
semua kasih sayang dan kenikmatan dunia telah diraih. Sayang, ia lupa, ia
terlena, sampai tiba punggung tidak lagi tegak, kaki sudah lunglai, mata sayu
dan rabun, suara tidak lagi jernih seperti saat remaja dahulu. Pendengaran
sudah abu-abu. Tiba masanya ia tidak lagi mampu meneruskan impiannya. Ia
wariskan apa yang dimilikinya, hasil jerih payah kedua tangannya yang lincah,
buah pikirannya yang jenius. Ada masa ia harus berbagi dengan orang lain.
Kembalilah
jiwa, engkau sudah jauh melanglang buana di negeri fatamorgana. Lupa berbekal
untuk yang kekal. Lupa berbenah untuk istana megah di alam kekal sana. Wajah
sama sekali jarang menyentuh tanah, tak pernah sujud, tersungkur mengakui
dosa-dosa. Bila keadaan ini demikian berjalan seterusnya, kapankah bekal kita
cukup?
Allahu
Akbar, betapa banyak orang yang segar bugar, tiba-tiba didatangi oleh kematian.
Padahal ia menyangka hidupnya masih lama karena usianya terbilang muda.
Kembalilah jiwa, sebab kebahagiaan hakiki bila engkau memiliki Allah di atas
segalanya.



