Tampaknya
judul ini mengada-ada. Tentu tidak. Saya berandai-anda kiranya dari satu
sekolah di Indonesia akan lahir seorang penulis dari kalangan guru, baik
penulis oase, essai, artikel, atau tulisan yang lebih berat sekelas buku.
Syukur-syukur bila satu sekolah ada dua atau beberapa orang guru yang bisa dan
produktif menulis (menghasilkan karya tulis).
Di
Indonesia, jumlah sekolah membludak. Data yang diambil dari Departemen
Pendidikan Nasional pada tahun 2007/2008 menunjukkan, jumlah sekolah pada tingkat
Sekolah Dasar terhitung 144.567, Sekolah Menengah Pertama 26.277, sedangkan
untuk tingkat Sekolah Menengah Atas jumlah sekolah di Indonesia dilihat dari
status perkembangan tiap propinsi sebanyak 10.239. Jadi, akumulasi sekolah dari
tingkat SD s.d. SMA berjumlah 181.083 sekolah belum termasuk SLB. Waow, jumlah
yang sangat fantastis.
Sekarang
mari kita berhitung, jumlah guru di Indonesia ada berapa? Tentu banyak sekali.
Dari satu sekolah saja bila guru terhitung sepuluh orang dikalikan dengan
jumlah sekolah di Indonesia, bisa ditebak berapa banyak jumlahnya.
Nah,
bagaimana dengan produktivitas menulis di kalangan guru? Kita tentu cukup
prihatin. Padahal, perkembangan teknologi informasi dan science di Indonesia terbilang pesat. Hal tersebut semestinya
diimbangi dengan produktivitas berkarya dari kalangan guru sebab dari karya
itulah peradaban yang baik bisa dibangun oleh generasi bangsa.
TS Eliot – Penyair Inggris (1888-1965)
mengatakan, “Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca” dan itu
semestinya dimulai oleh orang-orang yang sudah cukup banyak menyerap ilmu di
dunia pendidikan, yakni para guru.
Di
Jakarta, orang-orang cukup mengenal sosok Wijaya Kusumah (akrab dipanggil
Omjay) dari kalangan guru yang sangat produktif menulis. Guru SMP Labshool
Rawamangun Jakarta Timur ini cukup piawai mengompori orang untuk menulis. Di
Bandung, ada sosok Agus Hermawan. Beliau seorang guru Kimia di SMA Negeri 26
Bandung yang telah menerbitkan beberapa buku secara indie.
Di
Makassar ada sosok guru yang juga penulis nasional, Gegge Mappangewa yang
tulisan-tulisannya laris manis di kalangan remaja. Dan masih banyak lagi guru
yang juga banyak menulis (artikel hingga buku). Ada banyak guru yang mampu
menghasilkan karya tulis. Namun, jumlah sosok yang sampai bisa disebut
produktif itu hanya secuil. Lalu bagaimana solusinya?
Pertama,
budaya tulis (disamping membaca, tentunya) perlu digalakkan di kalangan guru.
Perlu ada sebuah tatanan yang mengatur tentang produktivitas seorang guru di
sekolah, baik negeri maupun swasta. Apalagi, karya tulis ilmiah sekarang
menjadi salah satu tolok ukur lulus tidaknya sertivikasi bagi seorang guru.
Suatu hal yang patut disyukuri.
Kedua,
perlu adanya penyadaran tentang pentingnnya budaya baca dan tulis untuk
merangsang kreativitas berkarya. Metode baca tulis ini sendiri telah berhasil
dipraktikkan oleh Hernowo Hasim yang juga seorang penulis dan editor buku di
kota Bandung. Bila para guru gemar membaca, maka akan lebih mudah menstimulus
mereka untuk menulis (baca; berkarya) sebab otak mereka sudah terlalu banyak
menyuplai ide-ide cerdas untuk minimal menulis sebuah artikel.
Ketiga,
pentingnya apresiasi yang tinggi bagi para penulis di Indonesia oleh para
pemangku kebijakan di negeri ini. Sebab bila dibandingkan dengan dunia luar,
maksud saya di luar negeri, apresiasi kepada para penulis di Indonesia sangat
minim. Hal ini bisa jadi landasan minimnya kontribusi pemerintah dalam
mewujudkan generasi berilmu yang tidak mustahil bisa lahir dari berbagai
kalangan, termasuk guru, untuk tumbuh menjadi penulis.
Di
sekolah kehidupan, manusia belajar berbagai macam tatanan hidup sosial
bermasyarakat. Budaya baca dan tulis semestinya menjadi salah satau aspek yang
perlu mendapat sorotan publik. Terlebih, pemerintah telah mencangkan pentingnya
melek ilmu pengetahuan bagi generasi bangsa pada semua kalangan, dari strata
sosial rendah, menengah, hingga kalangan atas. Setidaknya memompori para guru
untuk bisa menulis walau belum pada tahap mahir dan produktif, dinilai mampu
mengikir rendahnya budaya melek aksara di negeri ini.
Akhirnya,
melalui tulisan sederhana ini, saya mengajak kepada sebanyak mungkin guru di
Indonesia untuk bisa memulai membuat karyanya sendiri, lebih khusus dalam aspek
tulisan. Segala syarat untuk bisa menulis hampir dimiliki oleh para guru. Ilmu
yang mumpuni di bidangnya, pengalaman berdiri di depan kelas selama
bertahun-tahun, hingga banyaknya literatur dari bahan bacaan alias buku-buku
yang telah “dikonsumsi” sudah menjadi faktor krusial keberhasilan dalam
menulis. Yang dibutuhkan, dan ini yang paling penting adalah kemauan untuk
memulai berkarya, menulis itu sendiri.
Selamat mencoba.



