Mungkin
saya adalah anak yang paling bangga dan bahagia memiliki Ayah yang berani
bercerai demi kehidupan yang ia cintai; demi keluarga, demi kami anak-anaknya.
Bercerai, itu berarti memutus satu tali, dan mungkin akan menyambung tali yang
lain. Saya harap, ini adalah perceraian terakhir dan tidak lagi menjadi sesuatu
yang harus dilakukan di masa-masa yang akan datang dalam keluarga. Ya, semoga.
Broken
home? Oh, tidak, bukan itu
masalahnya. Ini bukan tentang pertengkaran dalam keluarga saya sebab keluar
kami tidak punya masalah dengan kebahagiaan. Keluarga kami adalah keluarga paling bahagia dalam menjalani kehidupan,
tanpa beban dan tanpa tekanan. Kami hidup dari hasil kerja tangan kami sendiri.
Kami tidak meminta apalagi mengemis kepada penguasa. Orang tua saya juga tidak
memaksa kami menjadi pengamen atau pemulung, walau kehidupan ekonomi tidak
tergolong sejahtera.
Mengapa
saya mensyukuri perceraian Ayah? Sebabnya mungkin sepele. Bahkan kadang dianggap
main-main oleh banyak orang. Ya, banyak orang dari remaja, dewasa, hingga orang
tua mungkin melihatnya sebagai sesuatu yang membahayakan kehidupan. Namun,
justru perceraian itulah yang menggairahkan kehidupan rumah tangga keluarga
saya.
Ceritanya
bermula ketika saya masih lajang alias belum menikah. Bermula saat saya masih
tinggal bersama orang tua di tanah Sulawesi, Makassar. Suatu malam, kakak
perempuan saya akan pindah domisili mengikuti suaminya ke Manado. Mereka
membawa serta anak-anaknya yang masih lugu yang selama ini tinggal bersama
kami, satu atap. Tentu saja kebahagiaan Ayah dan Ibu sebagai orang yang
berstatus kakek nenek berangsur menurun. Terasa direnggut cinta itu. Namun,
memang hal demikian termasuk wajar. Sebab seorang yang telah bersuami
sepatutnya tinggal di atap yang lain bersama keluarga barunya.
Saya,
ibu, dan keluarga yang lain turut serta mengantar kepergian kakak dan keluarga
kecilnya itu menuju bandara. Saat tiba di bandara, tiba-tiba kabar kurang enak
datang dari keluarga yang tidak ikut. Kabar tentang Ayah yang tiba-tiba sakit.
Sakit karena satu penyakit yang telah lama menggerogoti tubuhnya. Tubuh lelaki
yang tidak lagi kekar. Kami pun bersegera pulang setelah melepas kepergian
kakak penuh haru.
Tiba
di rumah, Ayah yang sudah terbaring lemah di atas kasur yang sederhana. Sederhana
tanpa ranjang apalagi spring bed,
beralaskan kasur yang mulai menipis dimakan zaman. Kehiudpan kami memang
sederhana, bahkan terbilang kurang dari aspek materi. Namun, kesederhanaan itu
tidak mengurangi baiknya akhlak dan budi kedua orang tua kami. Shalat rutin
ditunaikan. Zakat setiap tahun dikeluarkan. Bantuan senantiasa diulurkan kepada
tentangga-tetangga yang membutuhkan. Hari-hari penuh lukisan kebahagiaan.
Nafas
Ayah semakin sesak. Matanya sayu, tatapannya dalam. Air mata saya tak mau
tumpah karena menahan pilu. Tidak tega melihat seorang lelaki yang tidak muda
lagi itu melawan rasa sakit. Ibu diam dan tidak tampak air matanya tumbang. Ibu
memang perempuan tangguh dan tidak cengeng. Mungkin karena Ibu telah terbiasa
dengan keadaan yang sering menghinggapi rumah tangga mereka berdua. Sesekali
tersengal, Ayah menarik napas begitu berat. Sesekali keluhan mengalir dari
desahan napasnya.
“Anggukrangiki, Pak” Ingat Allah, Pak.
Orang Bugis atau Makassar memaknai kalimat ini sebagai ajakan untuk mengingat
Allah ketika seseorang menghadapi situasi yang sangat genting. Saya rasa Ayah
memahami maksud kalimat itu. Maka, sesekali itu pun Ayah melantunkan dzikirnya
tanpa diminta. Makan dan minum tidak dapat melewati kerongkongannya, situasi
semakin mengharukan. Takut kehilangan Ayah, saya mengajaknya berobat ke rumah
sakit namun ditolaknya.
Dalam
tradisi keluarga kami, seseorang tidak akan berobat ke rumah sakit bilamana
keadaannya belum sampai pada tahap kritis. Ini adalah efek kemiskinan sebab
kartu jaminan sosial tidak pernah memberikan solusi. Ayah meyakinkan kami, dan
benar saja, kondisi Ayah membaik beberapa menit kemudian. Lega, tentu saja.
Anak mana yang tidak bahagia melihat orang tuanya sehat dan bisa tersenyum
bersama mereka.
Sebagai
anak, saya meyakinkan Ayah untuk bisa berobat ke rumah sakit. Biaya saya
tanggung dari hasil keringat tangan saya sebagai pegawai pemerintah kala itu.
Maka berangkatlah kami berdua mengendarai motor seorang kakak laki-laki yang
sering saya pinjam. Saat tiba di rumah sakit, setelah registrasi, saya minta
agar Ayah general check up. Alhamdulillah, semua proses pemeriksaan
berjalan dengan lancar hasilnya pun negatif. Sehat. Hasil pemeriksaan dokter
itu terbilang aneh sebab Ayah sudah berkali-kali merasakan sakit, mulai sesak
napas berkepanjangan, kepala yang sering sakit dan gatal, kaki kesemutan, dan
lainnya.
Mungkin
ada yang bertanya-tnya, sebenarnya tulisan ini maksdunya apa? Apa kaitannya
dengan kisah Ayah saya yang sakit? Nah itu dia poinnya. Untuk menuntaskan
tulisan ini, saya ingin memadukannya dengan jawaban dari pertanyaan, mengapa
Ayah bercerai dan membuat saya bahagia.
Begini.
Ketika berkonsultasi dengan sang dokter di rumah sakit itu, maka samapilah sang
dokter dengan satu kesimpulan bahwa penyakit yang diderita Ayah disebabkan oleh
asap yang sering keluar masuk paru-parunya. Ya, asap alias rokok. Ayah saya
perokok berat. Bahkan setiap kali keluarga jauh datang ke rumah, selalu saja
ada oleh-oleh rokok satu atau beberapa bungkus. Saking suka merokok, kadang
diselingi dengan tembakau asli yang dibeli di pasar tradisional. Hasilnya, ya
sakit yang sering kambuh kumat itu deh.
“Bapak
merokok?” Tanya dokter yang terlihat alim itu. Ayah mengangguk tanda
membenarkan pertanyaan retoris itu. Maka satu-satunya jalan agar Ayah tidak
sakit lagi adalah berhenti merokok alias Ayah harus menceraikan rokok yang
sudah jadi istri keduanya selama ini. Bertahun-tahun hidup bersama rokok, Ayah
tidak punya pilihan kecuali mentalak rokoknya dengan talak tiga. Alhamdulillah,
perceraian Ayah dengan rokok membuahkan hasil. Ayah pun kembali sehat dan
bugar.
Bagaimana
dengan Anda yang masih memiliki banyak alibi sehingga sangat sulit untuk
berhenti merokok. Bagaimana mungkin kehidupan Anda elegan dipenuhi asap yang
tidak jelas itu? Seseorang pernah berkelakar bahwa orang yang boros itu
sebenarnya adalah para perokok. Mengapa? Sebab para perokok itu, selain
menghabiskan uangnya untuk hal yang merugikan kesehatannya juga boros karena
membuang asap yang ia hisap dari rokok. Asap dihisap seharusnya ditelan jangan
dibuang. Itu sesuatu yang bodoh. Ibaratnya orang makan ya jangan dimuntahkan
kalau enak.
Bangsa
ini memang aneh. Pengguna rokok terbilang jutaan, dari anak-anak yang masih
duduk di bangku sekolah hingga bos-bos pemegang kekuasaan di perusahaan kelas
dunia. Anehnya lagi, di negara asalnya, Amerika, iklan rokok diminimalisasi
sebab dampaknya sudah nyata menelan banyak korban. Di Indonesia, justru
sebaliknya. Iklan rokok bertebaran di penjuru negeri, dari perkotaan hingga
pelosok desa. Bahkan bebas diiklankan di berbagai media. Apa
kata dunia?
Ceraikan
rokok, Anda hidup sehat dan bahagia J
Trust me, it’s work.




0 Komentar:
Post a Comment