20:34
Hellen Adams Keller, seorang perempuan buta,
tuli, dan bisu, pada usia 22 tahun berhasil menerbitkan karya perdananya yang
mengguncang dunia, The Story of My Life.
Dari karyanya itu pula, orang-orang yang memiliki keterbatasan serupa
bangkit mengikuti jejak Hellen.
Kelahiran Hellen disambut gembira oleh kedua
orang tuanya, Arthur Keller dan Allabama. Lahir dengan kesempurnaan tanpa cacat
apapun. Menjelang usia delapan belas bulan, ternyata Hellen yang mungil
mengidap penyakit kronis, demam otak. Berbagai usaha dilakukan kedua orang
tuanya demi kesembuhan Hellen. Tapi semua usaha itu hanya sia-sia karena Hellen
tak kunjung sembuh dari penyakitnya. Bahkan, karena terlalu parah, penyakit itu
‘merenggut’ mata, telinga, dan lidah Hellen. Akhirnya, buta, tuli, dan bisu
permanen dibawa Hellen hingga dewasa, Bahkan
sampai ajalnya menjelang. Penyakit dan penderitaan yang sangat komplit,
menyayat jiwa para tetangga dan kerabatnya.
Apa jadinya bila kondisi
semacam itu menimpa kita, atau orang-orang yang kita cintai? Legowo? Atau
justru melakukan pemberontakan sekaligus menyalahkan Tuhan yang telah
memberikan segudang rezeki yang tak ternilai? Mungkin juga, tempat dan situasi
yang paling aman adalah ‘memenjarakan’ diri di dalam kamar.
Bila kita melihat hal semacam
itu terjadi kepada para pecundang peradaban –sekarang banyak kita temukan
kondisi serupa menimpa masyarakat miskin di negeri ini- menyerahkan nasibnya
pada keadaan. Pasrah. Diam. Bahkan ada yang bunuh diri karena tidak sanggup
berdiri di atas ujian. Luar biasa. Kedua kata itulah mungkin yang mewakili kita
semua sebagai sebuah respon salut kepada Hellen dan keluarganya. Bentuk
kepribadian yang sangat langka di negeri ini.
Orang-orang yang memiliki
jiwa besar sebagai seorang petarung, memiliki sikap pantang menyerah dengan
prinsip militan tentu tidak akan berdiam diri menyesali nasibnya. Ada banyak
contoh di sekitar kita banyaknya manusia bermental baja terhadap terpaan ujian
kehidupan. Bahkan ujian-ujian yang datang bertubi itulah yang mengangkat
derajat mereka di lingkungan tempat tinggalnya, dari tingkat RT sampai tingkat
dunia.
Orang tuanya putus asa? Tentu
saja tidak. Keadaan Hellen yang sangat memprihatinkan itu tidak membuat
semangat orang tuanya kendor tuk mengajari puteri cantiknya itu arti kehidupan.
Dan pada masanya, Hellen tumbuh menjadi seorang penulis ternama. Hebat dah.
Semoga saya, pembaca, dan kita semua bisa belajar dari semangat Hellen mengupayakan kehidupannya dengan cara memberdayakan diri. Bila bukan saya, boleh jadi Andalah penerus Hellen berikutnya. Ya, semoga.