Hellen Adams Keller, seorang perempuan buta, tuli, dan bisu, pada usia 22 tahun berhasil menerbitkan karya perdananya yang mengguncang dunia, The Story of My Life. Dari karyanya itu pula, orang-orang yang memiliki keterbatasan serupa bangkit mengikuti jejak Hellen.

Kelahiran Hellen disambut gembira oleh kedua orang tuanya, Arthur Keller dan Allabama. Lahir dengan kesempurnaan tanpa cacat apapun. Menjelang usia delapan belas bulan, ternyata Hellen yang mungil mengidap penyakit kronis, demam otak. Berbagai usaha dilakukan kedua orang tuanya demi kesembuhan Hellen. Tapi semua usaha itu hanya sia-sia karena Hellen tak kunjung sembuh dari penyakitnya. Bahkan, karena terlalu parah, penyakit itu ‘merenggut’ mata, telinga, dan lidah Hellen. Akhirnya, buta, tuli, dan bisu permanen dibawa Hellen hingga dewasa, Bahkan sampai ajalnya menjelang. Penyakit dan penderitaan yang sangat komplit, menyayat jiwa para tetangga dan kerabatnya. 

Apa jadinya bila kondisi semacam itu menimpa kita, atau orang-orang yang kita cintai? Legowo? Atau justru melakukan pemberontakan sekaligus menyalahkan Tuhan yang telah memberikan segudang rezeki yang tak ternilai? Mungkin juga, tempat dan situasi yang paling aman adalah ‘memenjarakan’ diri di dalam kamar.

Bila kita melihat hal semacam itu terjadi kepada para pecundang peradaban –sekarang banyak kita temukan kondisi serupa menimpa masyarakat miskin di negeri ini- menyerahkan nasibnya pada keadaan. Pasrah. Diam. Bahkan ada yang bunuh diri karena tidak sanggup berdiri di atas ujian. Luar biasa. Kedua kata itulah mungkin yang mewakili kita semua sebagai sebuah respon salut kepada Hellen dan keluarganya. Bentuk kepribadian yang sangat langka di negeri ini. 

Orang-orang yang memiliki jiwa besar sebagai seorang petarung, memiliki sikap pantang menyerah dengan prinsip militan tentu tidak akan berdiam diri menyesali nasibnya. Ada banyak contoh di sekitar kita banyaknya manusia bermental baja terhadap terpaan ujian kehidupan. Bahkan ujian-ujian yang datang bertubi itulah yang mengangkat derajat mereka di lingkungan tempat tinggalnya, dari tingkat RT sampai tingkat dunia.

Orang tuanya putus asa? Tentu saja tidak. Keadaan Hellen yang sangat memprihatinkan itu tidak membuat semangat orang tuanya kendor tuk mengajari puteri cantiknya itu arti kehidupan. Dan pada masanya, Hellen tumbuh menjadi seorang penulis ternama. Hebat dah. 

Semoga saya, pembaca, dan kita semua bisa belajar dari semangat Hellen mengupayakan kehidupannya dengan cara memberdayakan diri. Bila bukan saya, boleh jadi Andalah penerus Hellen berikutnya. Ya, semoga.

Categories:
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!