Kiat menulis kali ini lebih terfokus pada bahan bacaan. Membaca buku-buku atau referensi
berbasis motivasi, buku pengembangan diri atau self development, buku biografi, utamanya yang berkaitan dengan
biografi penulis sangat membantu dalam proses kreativitas menulis. Bahan bacaan seperti itu juga menunjang kematangan menulis. Semakin banyak membaca buku-buku penyemangat akan membangun pribadi yang
selalu merasa ingin berkarya, menulis.
Merenungkan karya para penulis tersohor, dari tulisan mereka yang
sederhana sampai yang paling populer akan menyisakan satu pertanyaan dalam
benak para pemimpi menjadi penulis, “Bila mereka bisa menulis, mengapa saya
tidak?” Ya, itu dia. Maka, menulislah!
Tahukah anda, Fir’aun yang kita kenal sangat jahat dan otoriter hendak
menobatkan dirinya sebagai Tuhan itu, ternyata memiliki kebiasaan membaca yang
luar biasa. Buku-bukunya ribuan, berjilid-jilid. Begitu juga dengan Bapak Hatta
(Bung Hatta) yang memiliki minat besar dalam membaca. Buku-bukunya yang sangat
banyak harus dimasukkan ke dalam peti berton-ton saat
akan pindah kediaman saat itu. Bahkan buku-buku tebal yang dimilikinya
dibacanya berulang kali sampai benar-benar diahaminya. Kecemerlangannya
sebagai wakil Presiden Sukarno pada masanya itu tentu tak pelak lagi kita
lupakan. Bagaimana dan apa jadinya kalau
seorang penulis mencintai kegiatan membaca seperti itu? Dan memang sudah sewajarnya penulis itu rajin membaca. Kata mereka
yang sudah matang menulis, membaca itu kewajiban.
Semakin banyak membaca, baik artikel, esai, atau buku-buku yang
memprovokasi (dalam hal-hal positif, tentunya) akan semakin menumbuhkan gairah agar segera mengambil tindakan untuk menulis.
Paling tidak menulis gagasan-gagasan sederhana. Selangkah demi selangkah, pada
akhirnya akan mengarah pada kualitas tulisan yang dapat diperhitungkan, manfaat. Baik bagi diri si penulis atau bagi orang lain
yang ‘bersedia’ membacanya.
Saya
sengaja menempatkan kegiatan membaca sebagai kiat kedua setelah menulis itu
sendiri sebab walaupun seorang
calon penulis dapat menulis secara berkesinambungan, membaca tetap penting dan
menjadi hal yang krusial dalam menulis. Bila kecintaan terhadap kegiatan
membaca tidak dipupuk dengan baik, bisa jadi, seiring waktu yang terus
berjalan, semangat menulis juga bisa kendor. Walau bersemangat ingin menulis,
tetapi karena kurangnya referensi di otak sebagai efek membaca, maka keinginan
menulis hanya sekadar impian. Jadi, teruslah membaca, khususnya buku-buku yang
bersifat provokatif dan tentunya informatif.
Semoga kiat ini dapat menumbuhkan semangat menulis dalam diri kita, Anda dan saya.
Semoga bermanfaat. Selamat menulis!