Ruang Private dan Ruang Publik merupakan gagasan yang dapat Anda baca pada tulisan Hernowo dalam bukunya ‘Mengikat Makna Up Date’. Dalam menulis, sebaiknya kita menggunakan ruang private untuk menjabarkan konsep yang ada di pikiran ke dalam bentuk tulisan, khususnya bagi penulis pemula. Maksudnya, menulis itu harus berdasarkan kemauan.

Menulis apa saja, apa adanya sampai semua yang ada di kepala keluar menjelma menjadi tulisan. Menulis pada konteks ini tanpa menghiraukan baik buruknya tulisan yang dihasilkan, dari segi kualitas maupun kuantitas. Intinya terus menuliskan apa yang ada di kepala. Ruang private ini sejalan dengan konsep yang banyak digunakan oleh para penulis besar, yaitu menggunakan otak kanan untuk bekerja.

Ruang private merupakan ruangan tempat kita bekerja secara mandiri. Apa yang dihasilkan dari kerja-kerja itu akan dikonsumsi dan dinikmati sendiri. Ya, sendiri, tidak dinikmati oleh teman maupun sahabat, serta makhluk-makluk di luar sana. Sebelum pindah ke ruang publik, segala yang akan dan telah ditulis merupakan isi kepala sendiri tanpa menghiraukan baik buruknya bagi orang lain. 

Private berarti bermain dengan diri sendiri, secara mandiri. Terlepas dari apa yang disebut kualitas. Menghilangkan beban-beban pikiran, atau meminjam istilah EWA, kerak-kerak yang bisa menjadi penyakit di kepala. Inilah konsep ruang private itu. Kita berpikir, menghimpun segala yang dipikirkan dalam ruang private, kemudian menjabarkan dan melepasnya menjadi konsep-konsep tertulis. Dinikmati secara private. Teknik ini juga banyak kita dapatkan pada tulisan EWA, dengan konsepnya yang tidak lazim, menulis melegakan jiwa, menulis merdeka, menulis dengan gembira, dan banyak lagi. 

Bicara tentang hasil lebih diutamakan karena berarti praktik, bukan teori. Bila hendak meramu tulisan dengan baik, sesuai konsep menulis yang sesungguhnya, menulis berdasar baku dan tidak baku, formal dan tidak formal, sesuai kaidah kebahasaan, baru akan dinikmati di ruang publik. Artinya, menulis di ruang private kemudian memilah dan merevisinya di ruang publik karena tulisan yang telah ‘menjadi’ akan menjadi konsumsi orang banyak, publik, dipublikasi. Pada tahap inilah, tulisan siap dikritik, dipuja puji, dicela, dikagumi dan sebagainya. Sebabnya tidak lain karena tulisan yang dihasilkan pada wilayah ini adalah tulisan yang telah digagas dengan baik karena telah mengalami perombakan besar-besaran, mengalami editing di ruang publik yang kemudian diserahkan hasilnya kepada banyak orang yang akan membaca dan menikmatinya.

Menulis dengan gembira, menuangkan segala sesuatu yang ada di kepala, yang ada dipikiran, bukan yang akan dipikirkan, tuliskan semuanya. Bermasa bodohlah terhadap hasil yang akan dinikmati. Biarkan semua menjelma menjadi tulisan yang akan menyembuhkan penyakit-penyakit hati, yang meresahkan kehidupan, yang memberatkan otak, dan bla bla bla
Konsep dan teori tentang menulis demikian itu pun dikenal secara populer dengan menulis berbasis otak kanan. Kekeliruan yang kerapkali terjadi sehingga apa yang ingin dituliskan tidak pernah sampai di garis finish, alias tidak pernah tuntas karena penulis (pemula) berkonsentrasi menulis dengan otak kirinya. Menulis apa yang ada di pikiran dan pada saat itu juga langsung melakukan editing sehingga, baru satu kalimat dihapus lagi karena merasa tidak bagus, tidak baku, tidak enak dibaca. Atau menulis satu paragraf dengan kesalahan di sana sini, dihapus lagi, lagi dan lagi. Akhirnya paragraf yang sudah ditulis mengikis akibat dikoreksi kembali.  

Sangat disayangkan karena konsep menulis ini lebih banyak digunakan oleh para pecinta ‘menulis’. Maka, pantaslah banyak yang share, ‘saya suka dan sangat senang membaca dan menulis, tetapi kenapa ketika menulis, tulisan saya tidak pernah tuntas?’ Jawabannya, ya karena menulis memperbodoh diri, menulis kok disusah-susahkan. Menulis ya menulis saja sampai semua yang bersarang di kepala keluar, ‘muntahkan’ semuanya. Begitu kata EWA dalam Menulis Sangat Mudah. Biasakan menulis dengan otak kanan. Biarkan pikiran berjalan, berkorelasi dengan apa yang mau dan sedang dikerjakan oleh jari-jari kita untuk menulis. Selesaikan sampai ke akar-akarnya. 

Mengenai pemilahan konsep kerja otak kiri dan otak kanan ini, Stephen R. Covey memberikan gagasannya dalam The 7 Habits of Highly Effective People. Covey berkata, “Pada hakikatnya, belahan kiri melakukan bagian yang lebih logis/ verbal dan belahan kanan adalah bagian yang lebih intuitif dan kreatif. Belahan kiri berkaitan dengan kata, belahan kanan dengan gambar; belahan kiri dengan pembagian dan hal-hal spesifik, belahan kanan dengan keseluruhan dan hubungan antar bagian. Belahan kiri dengan analisa, yang berarti menguraikan; belahan kanan dengan sintesa, yang berarti menyatukan. Belahan kiri dengan cara berpikir runtut; belahan kanan dengan cara berpikir serentak dan menyeluruh. Belahan kiri terikat dengan waktu; belahan kanan bebas waktu.”

Jadi, konsepnya sederhana, bila anda sudah mahir menulis, silakan menulis dengan konsep mana saja yang anda senangi. Saran saya, bila anda seorang pemula, maka menulis menggunakan belahan otak kanan sangat tepat diterapkan. Silakan anda coba.

Biarkan air mengalir sampai ke mata air kehidupan. Air yang menggenang akan menjadi keruh, sedangkan air yang mengalir akan memberi kehidupan, bahkan memberikan manfaat yang jauh lebih banyak, menuju air terjun atau menuju mata air yang dapat dimanfaatkan dalam segala kebutuhan makhluk hidup di alam ini. Jangan hiraukan rayuan kemalasan, iming-iming kualitas, dan lainnya. Biarkan tangan menulis sampai tinta pena penghabisan. Tancapkan tekad untuk menyelesaikan tulisan. Kemudian, setelah selesai barulah dapat dikoreksi kembali, lakukan editing dengan baik. Inilah konsep menulis dengan otak kanan. Alirkan energy anada melalui tulisan, keluarkan semuanya. Jangan coba-coba mengedit pada saat (sementara) menulis. Tapi, tidak masalah bila anda sudah terbiasa menulis alias sudah mahir. 

Bila hendak mengharapkan kualitas lebih baik, endapkan beberapa saat, beberapa jam atau beberapa hari. Setelah itu buka kembali, baca dengan saksama, baca dengan mengkritiknya sendiri, revisi dengan bijak dan penuh kepercayaan, kemudian lihatlah hasilnya. Hasil akhir itulah merupakan buah menulis sesungguhnya. Buah dari tekad dan tulisan menggunakan otak kanan kemudian otak kiri. Bila menulis dengan otak kiri kemudian otak kanan, biasanya hasilnya akan nihil. Bilapun ada tidak akan memuaskan, kecuali bagi mereka yang benar-benar profesional dalam menulis. 

Bila masih tahap belajar, maka menulislah dengan metode paling mudah. Jangan menyusahkan diri sendiri. Gunakan otak kanan, kemudian lihatlah hasilnya. Buktikan bahwa menulis bukanlah pekerjaan yang susah. Menulis sangat mudah, tentu dengan konsep yang tepat pula.  

“Anda tidak usah terlalu memikirkan masalah tata bahasa, ejaan, atau pun struktur kalimat ketika menulis. Anda juga harus berusaha untuk membebaskan diri Anda. Terserah kepada Anda untuk menulis apa saja yang Anda inginkan. Yang penting Anda merasa nyaman dan tekanan Anda hilang ketika menulis.” _Dr. Pennebeake


Categories:
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!