Menulis apa saja, apa adanya sampai semua yang ada di kepala keluar menjelma menjadi tulisan. Menulis pada konteks ini tanpa menghiraukan baik buruknya tulisan yang dihasilkan, dari segi kualitas maupun kuantitas. Intinya terus menuliskan apa yang ada di kepala. Ruang private ini sejalan dengan konsep yang banyak digunakan oleh para penulis besar, yaitu menggunakan otak kanan untuk bekerja.
Ruang private merupakan ruangan tempat kita bekerja secara mandiri. Apa yang dihasilkan dari kerja-kerja itu akan dikonsumsi dan dinikmati sendiri. Ya, sendiri, tidak dinikmati oleh teman maupun sahabat, serta makhluk-makluk di luar sana. Sebelum pindah ke ruang publik, segala yang akan dan telah ditulis merupakan isi kepala sendiri tanpa menghiraukan baik buruknya bagi orang lain.
Private berarti bermain dengan diri sendiri, secara mandiri. Terlepas dari apa yang disebut kualitas. Menghilangkan beban-beban pikiran, atau meminjam istilah EWA, kerak-kerak yang bisa menjadi penyakit di kepala. Inilah konsep ruang private itu. Kita berpikir, menghimpun segala yang dipikirkan dalam ruang private, kemudian menjabarkan dan melepasnya menjadi konsep-konsep tertulis. Dinikmati secara private. Teknik ini juga banyak kita dapatkan pada tulisan EWA, dengan konsepnya yang tidak lazim, menulis melegakan jiwa, menulis merdeka, menulis dengan gembira, dan banyak lagi.
Konsep dan teori tentang menulis demikian itu pun dikenal secara populer dengan menulis berbasis otak kanan. Kekeliruan yang kerapkali terjadi sehingga apa yang ingin dituliskan tidak pernah sampai di garis finish, alias tidak pernah tuntas karena penulis (pemula) berkonsentrasi menulis dengan otak kirinya. Menulis apa yang ada di pikiran dan pada saat itu juga langsung melakukan editing sehingga, baru satu kalimat dihapus lagi karena merasa tidak bagus, tidak baku, tidak enak dibaca. Atau menulis satu paragraf dengan kesalahan di sana sini, dihapus lagi, lagi dan lagi. Akhirnya paragraf yang sudah ditulis mengikis akibat dikoreksi kembali.
Sangat disayangkan karena konsep menulis ini lebih banyak digunakan oleh para pecinta ‘menulis’. Maka, pantaslah banyak yang share, ‘saya suka dan sangat senang membaca dan menulis, tetapi kenapa ketika menulis, tulisan saya tidak pernah tuntas?’ Jawabannya, ya karena menulis memperbodoh diri, menulis kok disusah-susahkan. Menulis ya menulis saja sampai semua yang bersarang di kepala keluar, ‘muntahkan’ semuanya. Begitu kata EWA dalam Menulis Sangat Mudah. Biasakan menulis dengan otak kanan. Biarkan pikiran berjalan, berkorelasi dengan apa yang mau dan sedang dikerjakan oleh jari-jari kita untuk menulis. Selesaikan sampai ke akar-akarnya.
Bila hendak mengharapkan kualitas lebih baik, endapkan beberapa saat, beberapa jam atau beberapa hari. Setelah itu buka kembali, baca dengan saksama, baca dengan mengkritiknya sendiri, revisi dengan bijak dan penuh kepercayaan, kemudian lihatlah hasilnya. Hasil akhir itulah merupakan buah menulis sesungguhnya. Buah dari tekad dan tulisan menggunakan otak kanan kemudian otak kiri. Bila menulis dengan otak kiri kemudian otak kanan, biasanya hasilnya akan nihil. Bilapun ada tidak akan memuaskan, kecuali bagi mereka yang benar-benar profesional dalam menulis.
Bila masih tahap belajar, maka menulislah dengan metode paling mudah. Jangan menyusahkan diri sendiri. Gunakan otak kanan, kemudian lihatlah hasilnya. Buktikan bahwa menulis bukanlah pekerjaan yang susah. Menulis sangat mudah, tentu dengan konsep yang tepat pula.
“Anda tidak usah terlalu memikirkan masalah tata bahasa, ejaan, atau pun struktur kalimat ketika menulis. Anda juga harus berusaha untuk membebaskan diri Anda. Terserah kepada Anda untuk menulis apa saja yang Anda inginkan. Yang penting Anda merasa nyaman dan tekanan Anda hilang ketika menulis.” _Dr. Pennebeake



