Menyoal teknik menulis bukan hal baru bagi para penulis. Namun, bicara produktivitas menulis, saya sedikit ragu, apakah setiap orang yang suka menulis benar-benar sangat produktif, benar-benar produktif, atau benar-benar tidak produktif. Untuk menelaah kasus ini, saya butuh sedikit proses merenungkan produktivitas menulis saya yang barangkali bisa disebut sebagai salah satu orang yang suka menulis tapi tidak bisa disebut produktif. Nah lho, bagaimana dengan Anda?
Saya berusaha mencari tahu, kapan saya sangat produktif menulis, dan kapan saya benar-benar bisa kehilangan gairah menulis. Kalau sedang produktif, saya bisa menulis tiga artikel dalam satu hari. Dalam sejam atau satu kali duduk, satu artikel sekitar tiga halaman kuarto juga bisa saya tuntaskan saat itu juga.
Dari
perjalanan pendek (bukan perjalanan panjang karena saya bukan penulis produktif
J) berkawan
dengan beberapa penulis, saya jadi tahu kapan waktu yang tepat untuk menulis
dan bisa segera menyelesaikan rangkaian ide saya saat itu juga, serta kapan
saya hanya bisa mencatat ide-ide tulisan saya dalam kotak amal ide-ide dalam
waktu yang relatif lama, bahkan bisa berbulan-bulan.
Ketika
bertandang ke rumah seorang kawan di Bandung, yang seorang penulis (entah
produktif atau tidak) saya jadi banyak tahu tentang dunia penulisan walau masih
sedang belajar. Sepulangnya, saya merasa sangat pede untuk menyatakan diri
sebagai seorang penulis. Bahkan butuh pengakuan. Kunjungan itu pun membuahkan
hasil dengan dua hingga tiga artikel bisa ditulis tanpa basa basi. Namun apa
yang terjadi setelah sepekan berlalu, ide-ide hanya menumpuk di kepala, bahkan
rasanya saya tidak berdaya untuk menuangkannya dalam kertas, mewujud menjadi
karya.
Di
lain waktu dan kesempatan, ketika saya membaca buku-buku panduan menulis, eh
saya merasa lahir kembali dan bisa segera menulis lagi. Kalau sedang ber-SMS
dengan kawan-kawan, dan ada yang menanyakan tentang tulisan-tulisan saya,
meskipun sebenarnya saat itu saya telah vakum menulis beberapa pekan, naluri
kepenulisan saya bangkit lagi dan kembali menulis (lagi).
Kalau
ditanya, kapan momen yang tepat untuk menghasilkan karya, ya jawaban saya
sederhana. Kalau ada yang menagih tulisan, atau ada yang “menantang” saya untuk
menuliskan satu ide, gairah jurnalis saya (cieeee...) langsung bangkit, dan
seeeeeet jadilah tulisan.



