Menabung di bank ide telah kita bahasa pada artikel sebelumnya. Pada tingkat lanjut kita masih berbicara mengenai bank ide tersebut, namun lebih menekankan pada masalah kemandegan, kebuntuan, alias saat ide mentok.

Setelah ide ada, sudah ditulis pula, pada segmen penulisan kita seringkali menemui kebuntuan. Ide ada tetapi tidak bisa ditulis sampai tuntas sehingga tulisan seperti pincang karena semua ide yang bersemayam di kepala tidak dapat dikeluarkan. Kebuntuan ide. Ini lebih popular dikenal dengan writer’s block. Kondisi seperti ini banyak dialami oleh para penulis, baik pemula maupun profesional. Hampir dipastikan semua penulis pernah mengalami gejala ini. Bila tidak, boleh jadi mereka adalah penulis yang benar-benar langka di dunia ini. Mengapa hal seperti ini (kebuntuan ide) bisa terjadi? 

Mengenai kebuntuan ide ini, kemungkinan terjadi karena beberapa sebab berikut:
  • Penulis memiliki perbendaharaan kata yang relatif sedikit sehingga kesulitan mengalirkan kata-kata. Umumnya dialami oleh penulis pemula. Tenang, anda dapat mengatasinya bila terus mengasah kemampuan menulis dengan banyak berlatih dan banyak membaca;
  • Literatur atau referensi kepenulisan sangat minim sehingga tidak mencukupi kebutuhan dalam mengalirkan ide. Kemungkinan besar terjadi (pula) karena penulisnya kurang (sekali lagi) membaca;
  • Tulisan yang memuat ide tidak dilakukan dengan fokus sehingga tulisan berkembang terlalu luas dan berakibat, apa yang hendak disampaikan tidak bisa tuntas karena tulisan menyasar ke segala penjuru. Hasilnya? Penulis bingung sendiri kapan bsa menyelesaikan tulsiannya. Inilah pentingnya membuat outline atau kerangka tulisan.
  • Topik tulisan tidak dikuasai sepenuhnya sehingga dibutuhkan kerja keras yang ekstra untuk menuntaskan tulisan. Menulis dengan gaya ini membutuhkan ‘persediaan’ yang matang.
Untuk mencegah masalah tersebut terjadi, biasakanlah berhenti sejenak dari kegiatan menulis Anda. Berjalanlah ke sekitar halaman rumah. Lihat pemandangan yang asri, mengobrol dengan teman, atau ber-SMS dengan sahabat. Ada penulis yang menyiasati kebuntuan ide ini dengan menghentikan kegiatan menulisnya kemudian membaca buku-buku apa saja sekadar mengobati kebuntuan idenya. Biasanya setelah rehat sejenak, pikiran kembali segar dan ide-ide pun kembali bermunculan. Anda dapat menyiasatinya sesuai aktivitas yang anda senangi. Apapun itu.

Istilah bank ide sendiri saya dapatkan setelah membaca sebuah literatur -sayangnya saya lupa judulnya- yang digagas oleh seorang penulis. Bank ide ini adalah otak kita yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap informasi. Apalagi hanya sekadar menabungnya. Sayangnya, tidak banyak jumlah orang yang dapat menggunakan otaknya sebagai penyimpan informasi yang baik. Faktor sering lupa adalah hal yang sangat dominan sebagai alasan. Itu wajar dan normal saja. Saya pun sering mengalaminya. Begitu banyak ide yang berkejaran di ranah otak, sampai bertumpuk-tumpuk. Belum sempat ditangkap, eh yang lain datang menyerbu. Seolah tidak ada habisnya. Nah, kita tinggal memilih ide yang baik, yang punya kekuatan, yang menarik untuk ditulis.

Menyiasati tidak efektifnya menggunakan kepala anda (baca: otak) sebagai bank ide, anda dapat membuat sebuah catatan tersendiri mengenai ide-ide anda. Biasakan membawa kertas catatan saat bepergian. Siapa tahu –dan ini lebih sering- saat anda jogging, tamasya, atau makan enak di restoran, ada ide terlintas yang menggoda. Langsung ditulis saja. Torehkan ke dalam catatan. 

Menurut guru saya di sekolah dahulu, begitu ada ide langsung dicatat saja supaya tidak hilang atau tiba-tiba terserang penyakit lupa. Memang tidak jarang alias sering kita kedatangan tamu (baca; ide), namun karena tidak dilayani, tamu-tamu itu pergi entah ke mana. Anda sering mengalaminya? Jika iya, maka catatlah segera.

Masa bodoh apakah ide itu oke atau buruk. Tulis saja. Kumpulkan. Simpan atau tabung ke rekening buku tabungan anda. Ada penulis yang hanya menulis satu kata pada lembaran kertas kosong, atau beberapa kalimat di komputernya sekadar mengikat idenya. 

Apakah ide itu akan jadi tulisan yang berkualitas atau sebaliknya, urusan selanjutnya. Saya sendiri punya bank ide yang jumlahnya tidak sedikit –buku-buku khusus untuk mencatat ide. Ada juga buku khusus untuk membuat outline buku-buku yang akan ditulis- untuk mengabadikan ide-ide cemerlang. Saya tidak tahu apakah ide itu nantinya akan menjadi tulisan yang baik atau tidak. Tetapi yang paling penting saya merasa puas karena menghargai tamu saya dan mengajaknya masuk ke beranda rumah saya. Mudah-mudahan Tuhan memberikan balasan yang baik atas sikap saya menghargai dan menjamu tamu saya itu. Siapa tahu semua itu adalah ilham yang dianugerahkan Tuhan untuk saya. Saya hanya menerimanya dan memperlakukannya dengan baik. Semoga itu masuk dalam bagian rezeki saya, hehehe.

Nah, bagaimana dengan anda? Sudah punya bank ide? Bisa juga menggunakan papan tulis khusus untuk mencatat ide yang datang tiba-tiba. Tempelkan di dinding kamar anda, atau tepat di belakang pintu sehingga sebelum keluar, siapa tahu ada yang perlu dicatat. 

Ide yang telah ditulis itu dapat menghemat waktu untuk berpikir lebih dalam memikirkan atau mengundangnya kembali ketika membutuhkannya. Kalau tidak dicatat, akan repot sendiri nanti.

Yap, mari kita buat bank-bank ide. Boleh juga membuka ‘cabang-cabangnya’ sesuka hati anda. Tidak ada yang akan melarang apalagi yang melaporkan ke pihak berwajib karena bank anda adalah bank legal milik pribadi. Anda harus egois dalam masalah ini karena anda adalah penabung tunggal, anda pula manajernya. Anda akan kaya dan memiliki harta yang bisa digunakan kapan saja dibutuhkan. 

Entah sudah berapa banyak cabang bank yang telah saya buka. Mungkin kalau mau sedikit sombong, saya bisa dibilang manajer sebuah bank, hehehe. Bagaimana dengan Anda?
Categories:
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!