Dari mana memungut ide? Sebuah pertanyaan yang sudah membumi di hati para penulis (pemula). Ini pula salah satu alasan klasik mengapa menulis dikatakan sangat sulit. Tidak ada ide, kekurangan ide, ide mandeg, ide tak kunjung datang, dan sejumlah alibi untuk menunda-nunda menulis. Padahal, kalau mau jujur ide ada di mana-mana, bertebaran di sekeliling kita. Hanya butuh kepekaan diri untuk menangkap signal ide itu.
Tentu tidak semua ide yang kita jumpai, baik yang terlintas di pikiran, dilihat oleh kasat mata, atau disentuh oleh kasarnya tangan, dapat diramu menjadi sebuah tulisan yang baik dan bermutu. Syarat untuk menangkap ide yang ‘cantik’ adalah cintai kegiatan menulis, maka ide-ide yang ‘cantik’ itu akan mendatangi anda dengan riangnya. Percaya atau tidak, bisa anda pertimbangkan dengan mecobanya.
Memang tidak mudah menyulap lingkungan kita menjadi lautan ide. Ide itu didatangkan oleh pikiran yang jernih nan peka alias sensitif terhadap situasi dan kondisi. Ide bisa datang dari mana saja tanpa diundang sekalipun.
Ide bisa muncul ketika melihat para gelandang di emperan jalan kota-kota besar, ketika menyaksikan film di bioskop atau televisi, ketika mendengar cerita dari teman, ketika sedang darmawisata ke tempat rekreasi melepas lelah, ketika sedang membaca buku, ketika nongkrong di pinggir jalan, ketika menemani pengamen bernyanyi riang gembira, ketika antri membeli tiket di loket kereta api, ketika mendengar suara-suara ‘berisik’, ketika sedang rapat atau meeting di kantor-kantor, ketika sedang menerima telepon teman atau sahabat, ketika berselancar di internet, ketika melihat foto-foto kenangan masa muda, dan mungkin saat malas menghadiri undangan, ketika sedang terbaring di atas kasur empuk (juga tikar yang kasar, lho).
Di samping itu, ide dapat diperoleh ketika menunggu datangnya kantuk, ketika menghadiri undangan pernikahan seorang sahabat, ketika kecopetan di jalan raya, ketika melihat anak kecil menangis diganggu temannya, ketika menunggu ibu memasak di dapur, ketika begadang sampai subuh, bahkan ketika sedang mengejar maling, dan ketika-ketika lainnya. Emmm, banyak sekali ya, sumber dan pemicu ide itu. Bahkan bagi penulis yang sudah punya ‘nama’, sumber ide adalah segala sesuatu di alam raya ini.
Yang terakhir, barangkali ide juga bisa muncul ketika membaca tulisan yang terlalu cerewet ini, hehehe.
Anda tentu sudah paham dengan baik bagaimana memperoleh ide. Hal yang harus diingat dan dilakukan, tentunya adalah segera mengabadikan ide yang datang secepat kilat itu. Caranya, tulislah sesegera mungkin. Ada banyak kendala kemudian bila ide yang datang menyapa tidak segera ditulis, walaupun dengan coretan-coretan tangan biasa.
Betapa sering kita mendapatkan ide di jalan-jalan, tetapi karena tidak segera menulis atau mencatatnya, secepat kilat ide itupun hilang di telan bumi. Bila mau mengandalkan ingatan dengan kekuatan otak yang luar biasa juga tidak ada salahnya. Namun, sangat disarankan untuk mencatatnya karena kebanyakan manusia sebagai sifat manusiawinya, lebih mudah lupa bila mencatatnya di dalam kepala. Hal seperti ini sudah banyak melanda para penulis. Bahkan penulis-penulis profesional, yang menjadikan menulis sebagai kegiatan utamanya, kerapkali dilanda masalah serupa.



