Awal bulan September 2013 kemarin, saya mengunjungi sebuah toko buku ternama di bilangan Cibubur, Jakarta Timur. Saya bersyukur karena toko buku ini akhirnya buka perdana setelah sekian satu tahun saya menantikannya. Saya memang bukan penduduk asli sehingga saya jarang berkeliling kota untuk sekadar memanjakan hobi membaca dan melihat-lihat buku di rak-rak toko buku.

Sebuah pengalaman menarik ketika saya akhirnya sampai pada toko buku yang saya tuju. Hal pertama yang saya lakukan selama bertahun-tahun menekuni hobi melirik buku adalah memutar kepala dan mata, menelusuri rak-rak buku nonfiksi. Mungkin itu merupakan efek karena saya lebih suka menulis secara ilmiah walau berbentuk artikel sederhana daripada menulis fiktif alias imajinatif.

Bila sudah di toko buku, pikiran saya tertuju pada sedikitnya dua jenis buku; buku motivasi atau buku cerita. Bahkan sesekali saya mencoba membuka lembaran-lembaran buku baru bergenre apa saja. Sebab biasanya buku yang baru terbit di tempatkan pada rak paling depan agar mudah dilihat oleh pengunjung yang masuk.

Mengingat saya sangat bergairah menulis artikel-artikel motivasi tentang menulis, maka langkah saya pun berhenti di depan tumpukan buku yang terbilang tidak murah, ya buku-buku motivasi yang harganya selangit. Saya tersentak melihat sebuah buku yang unik. Pada cover-nya bertuliskan judul yang juga unik: JANGAN DIBUKA dan blablabla. Untuk menjawab rasa penasaran saya, buku berwarna hijau kebiru-biruan itu pun saya buka. Gubraaak! Wallah, ternyata sekitar 90 persen halamannya berwarna putih suci, seperti putihnya bendera bangsaku, Indonesia.  Buku yang ditulis oleh seorang perempuan non-Indo itu mengejutkan saya. Tidak satu pun kalimat berbaris yang bisa saya baca sebab buku itu ternyata buku diary, yang kata penulisnya diary suka-suka.

Mungkin judul buku itu menjadi pesan bagi pembeli atau penikmat buku bhawa bila anda membuka buku tersebut maka anda akan terkejut karena tidka menemukan kalimat-kalimat yang bisa dibaca. Benar, dan saya terjerembab dalam perangkap judul itu.

Saat pulang, saya masih penasaran, kok bisa ya buku seperti itu diterbitkan. Malah diterbitkan oleh penerbit berkelas pula. Lalu saya bayangkan, kalau saya menulis buku seperti itu apa bisa juga diterbitkan? Walaaah, bisa gila penikmat buku di dunia.

Nah, belajar dari pengalaman yang menggelitik itu, saya akhirnya berpikir, kalau buku "sehebat" itu bisa diterbitkan dan menjadi rival buku-buku berkelas di toko buku, tidaklah mungkin hilang harapan hadirnya buku-buku yang memiliki mutu yang lebih baik. Kalau sekadar mengandalkan nama penulis, itu sama saja membodohi pembaca. Ada baiknya kita menulis ide-ide sederhana dengan harapan dapat bermanfaat bagi banyak orang. Ya, walau tulisan, rasa, dan nilai jualnya murah, yang penting manfaatnya. Itu langkah awal memulai sebuah kreativitas menulis untuk unjuk gigi.

Wong, buku diary saja bisa diterbitkan penerbit berkelas, masa kita tidak bisa menembus penerbit? Ayo, kita lebih semangat menulis. Semoga pengalaman ini bisa menjadi pembelajaran agar kita semakin tekun berkarya sebab ternyata menulis buku itu mudah.




Categories:
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!