Saya lupa kapan pertama kali saya belajar menulis, menulis artikel dan tulisan-tulisan reflektif tentang kehidupan. Yang saya ingat, beberapa karya saya pernah ditolak oleh media. Tumpukan puisi dan sekitar tiga naskah buku juga sudah jadi korban “kekejaman” penerbit. Namun demikian, ada juga beberapa yang sempat tembus media. Saya menyerah? Tidak dong. Saya terus menulis.

Pada mulanya, saya selalu yakin bahwa tulisan saya penuh ruh dan berkarakter. Pokoknya hasil tulisan saya oke punya deh. Dengan optimisme seperti itu, saya terus menulis hingga tulisan saya tidak terhitung jumlahnya. Berkaitan dengan kualitas tulisan, saya sendiri tidak pernah ambil pusing. Tetapi, titik kelemahan saya adalah, saya paling pantang bila karya saya dibaca orang. Malu rasanya. Khawatir ada yang mencela yang berakibat pada produktivitas menulis saya.

Pada beberapa situs online dan media offline, sering saya temukan orang-orang yang sangat kesulitan dalam menulis. Sama seperti saya. Walau sering menulis, saya tidak bisa membohongi diri sebab perasaan tidak bisa berkarya selalu hinggap di benak dan pikiran. Padahal, karya saya sudah banyak, menulis pun sering. Hmmm, mungkin saya kena penyakit manula alias pemula. Mengapa? Sebab saya tidak pernah berani menunjukkan karya-karya saya kepada orang. Saya menikmatinya sendiri. Saya membacanya dengan kepedean yang luar biasa. Saya tidak pernah memikirkan bagaimana orang lain menilai tulisan saya. Dibilang sombong, entahlah.

Nah, beberapa waktu yang lalu, saya mulai aktif ngeblok dan menulis di beberapa media. Bahkan sudah banyak tulisan yang menjadi konsumsi publik. Ada yang memuji dan lebih banyak yang tidak berkomentar. Entah tulisan saya jelek atau bagaimana. Mungkin mereka menjaga perasaan saya agar tidak tersinggung.

Hingga kini, saya lebih semangat dalam berkarya. Menulis sebanyak mungkin tentang apa yang menarik perhatian saya. Berteman dengan semakin banyak orang yang memiliki hobi yang sama, menulis. Membaca buku dan menulis lagi. Begitu seterusnya. Proses kreatif menulis itu saya jalani dengan baik. Bahkan sekali duduk saya bisa menyelesaikan satu artikel sederhana hingga tiga halaman. Kata orang itu hebat. Bagi saya itu biasa saja, sebab kualitasnya belum bisa diperhitungkan, hehehe. Entahlah.

Berjalannya waktu, saya semakin sadar bahwa kualitas tulisan saya perlu dibenahi, perlu ditambal sulam di sana sini. Karya-karya yang selama ini saya tulis dan saya nikmati sendiri seharusnya dibaca juga oleh orang lain agar lebih banyak manfaatnya. Dan memang itu cita-cita saya. Yang mengherankan, sampai saya geleng-geleng kepala, rasanya hati saya teriris, badan remuk manakala saya membuka kembali file-file tulisan lama yang tersimpan rapi dalam laptop. Ternyata, oh ternyata saudara-saudara, setelah membaca berlembar-lembar tulisan itu rasanya kiamat dah.

Walah, ternyata selama ini saya over convidence. Tulisan saya hancur, buruk, pokoknya tidak baguslah, begitu. Selama ini saya terlena oleh pikiran saya sendiri. Saya pun sadar, untuk disebut berkualitas, tulisan itu harus dibaca orang sebab orang lain bisa menilai dari sudut pandang berbeda. Kita tidak bisa menjadi hakim bagi tulisan-tulisan kita sendiri sebab boleh jadi kita nilai berkualitas tetapi orang lain memandangnya kacau balau. Berlaku pula sebaliknya, boleh jadi tulisan kita rasanya jelek, eh ada pembaca yang memuji-muji, katanya bagus, hebat, super, dan semacamnya. Jadi, nilai atau kualitas tulisan itu juga sebenarnya relatif. Namun, akan lebih jelas bila sudah menjadi konsumsi publik.

Pernah merasa tulisan Anda baik? Tetapi ada orang yang menilainya buruk? Hehehe, saya pernah, saya pelakunya. Suatu hari, saya menulis artikel untuk dikirimkan ke koran nasional. Alhamdulillah, dimuat. Senang, merasa bangga bisa menembus media. Kawan-kawan saya memuji. Katanya saya hebat, bisa menulis. Bahkan ada yang share ingin belajar menulis. Sebab ide mereka banyak tetapi tidak bisa dituangkan.

Tulisan yang dimuat tersebut saya kirimkan ke seorang dosen yang juga penulis buku. Biasalah, otak dosen tentu berbeda dengan otak manusia pada umumnya. Mereka, kebanyakan, walau tidak semua, berpikir lebih logis dan terstruktur. Paling tidak disebut ilmiah. Lalu apa komentarnya? Katanya tulisan saya itu termasuk kurang baik sebab strukturnya kacau. Korelasi antara satu paragraf dengan paragraf yang lain tidak jelas. Kalimat-kalimatnya begini dan begitu. Pokoknya tulisan saya tidak ada nilainya sama sekali. Hampir copot jantung saya dibuatnya.

Simpulannya, sebuah karya tulis itu memang tidak pernah sempurna. Penilaian redaksi tentu berbeda dengan pembaca pada umumnya, apalagi yang awam. Bagi saya, sebuah tulisan yang sudah mewujud kemudian orang lain mengambil manfaatnya itu sudah cukup. Soal kualitas tulisan itu belakangan. Itu prinsip yang saya pegang. Namun, saya tetap terbuka menerima saran tapi jangan dicacimaki ya, sebab saya sensitif.

Saya memang sarjana, sarjana pendidikan, pernah belajar tentang aturan kebahasaan. Namun terus terang, saya lebih menikmati menulis tanpa aturan. Saya menulis mengalir saja. Apa yang mau saya tulis, ya ditulis sampai selesai. Alasan yang paling logis, karena saya menulis bukan untuk tujuan ilmiah seperti disertasi, tesis, atau skripsi. Saya juga tidak menulis untuk ikut lomba. Saya menulis untuk merdeka. Itu saja.

Semakin sering saya membaca tulisan-tulisan lama saya, maka semakin sadarlah saya bahwa tulisan saya kurang berkualitas. Kepaduan kalimat dan paragraf kadang tidak jelas. Pesannya berantakan. Tanda bacanya juga tidak mau kalah, hancur banget dah. Namun, di sanalah saya belajar menulis. Berkaca dari tulisan yang sudah pernah saya rangkai itulah saya membenahi kesalahan-kesalahan, sedikit demi sedikit. Tidak masalah jika harus menjalani proses yang panjang. Selama hal itu manfaat, lakukan saja.

Seberapa buruk tulisan Anda? Mudah-mudahan tidak seburuk tulisan saya. Jalani proses dan Anda akan terkagum-kagum banyaknya karya yang bisa Anda buat. Trust me.


Bagi saya, belajar menulis itu berarti kita belajar ngasal. Kok bisa? Ya, karena menulis itu sebenarnya tidak butuh banyak keterampilan. Tulis dan selesai, begitu seterusnya. Saya sering menggunakan teknik ini ketika berada dalam kondisi bad mood untuk menulis. Apalagi kalau saya sangat ingin berkarya namun tidak punya ide yang bagus. Ya, saya menulis apa saja.

Bahkan berkali-kali saya katakan, kalau merasa kesulitan dalam mencari ide, cobalah sesekali menulis tentang bagaimana susahnya memulung ide penulisan. Atau, mungkin lebih sederhana bila menulis mengenai bagaimana sulitnya memulai menulis. Misalnya begini:

Hari ini saya ingin menulis namun saya merasa tidak memiliki banyak ide. Kalau ada ide pun saya kadang tidak tahu dari mana memulai menuliskannya. Kata banyak pakar penulisan, menulis itu bisa mengambil ide dari mana saja. Kenyataannya saya tetap saja kesulitan. Beragam literatur saya baca, dari buku-buku ringan sampai yang berat. Walau saya sadar bahwa saya masuk kategori kelas ringan sebab timbangan saya juga ringan, hehehe.

Kok, susah sekali ya menulis? Saya melihat banyak orang yang begitu gampangnya menulis. Mulai dari puisi, cerpen, esai, artikel, novel, bahkan buku. Padahal buku panduan menulis yang sering saya baca untuk memotivasi diri sudah menumpuk di rumah. Waduh, bagaimana ya solusinya?
Saya masih sering terkendala memulai, atau mengalami kebuntuan ide. Aduuuh, menulis kok repot banget…. dan seterusnya. Kalau keluhan seperti ini dituangkan dalam bentuk tulisan, kan bisa menjadi satu tulisan sederhana. Ini untuk menjembatani kebuntuan ide. Kuncinya ada pada pembiasaan diri.

Saya ingin mengulang pernyataan saya bahwa menulis itu ngasal, tidak perlu banyak pikir apalagi banyak pertimbangan. Dalam teori-teori menulis sering kita jumpai istilah mental block. Nah, lawan itu dengan memaksa diri, mulai segera, jangan menunda. Keluarkan dulu isi kepala, jangan ditahan. Lepas dan bebaskan diri dari belenggu tersebut. Kemudian, kata Mario Teguh, lihatlah apa yang terjadi. Trust me, it works.

Jujur, ide tulisan ini saya tangkap ketika nongkrong di dalam kamar mandi. Memang, menurut satu sumber penelitian, kebanyakan penulis, utamanya laki-laki, mendapat ide-ide saat bersemedi di kamar mandi. Ini sudah sering saya buktikan. Jadi, bohong besar kalau susah mendapat ide. Saya catat agar tidak kabur kemudian saya tuangkan dalam tulisan ini ketika ada waktu. Alhamdulillah, apa yang Anda baca ini hasilnya, menulis ngasal. Mungkin sederhana, tetapi sangat bermanfaat bagi proses belajar menulis saya.

Menulis ngasal itu maknanya kita menulis apa saja. Bagaimana hasilnya itu belakangan. Kita butuh proses. Proses untuk terampil menuangkan ide. Saat mengalami kebuntuan ide, bisa disiasati dengan menulis apa yang kita rasakan saat itu. Nah, itu namanya penulis yang gigih. Kehilangan ide alias buntu, cari alternatif lain lalu tulis.

Menulis ngasal itu ibarat terjebak macet di kota Jakarta. Kalau tidak pintar nyalib-nyalib di koridor-koridor sempit dalam kerumunan kendaraan, wah bisa matang kita di bawah terik matahari. Nah, kalau sudah terbiasa kan enak, jadi bisa cepat sampai ke tujuan. Tapi tetap patuhi lalu lintas. Mengenai bagaimana caranya, ya silakan Anda praktikkan, hehehe.
Kok logikanya seperti itu? Entahlah. Ya namanya juga menulis ngasal, ya terserah saya dong. Kan kita belajar ngasal. Ngasal bagaimana menyiasati kebuntuan ide. Jadi, logika apa saja bebas digunakan. Yang terpenting kita bisa berkarya. Sambil proses itu kita jalani, kelak bisa mahir, insya ALLAH. Nah, kalau sudah terbiasa menulis, hambatan apapun lewat.

Simpulannya, kalau mau belajar menulis, ngasal aja. Hal itu tidak melanggar undang-undang kan? Majelis Ulama juga tidak mengharamkannya. Jadi seperti bahasa, sifatnya arbitrer alias mana suka. Mau menulis ini, silakan. Mau menulis itu, silakan. Tidak ada pasal yang menjerat penulis pemula selama mereka tidak mencemarkan nama baik orang atau berkarya untuk memicu konflik SARA. Begitu.

Menulis ngasal aja, tuntaskan. Tedeeeeeng, jadilah karya kita. Sederhana, bukan?


Kenal si Budi? Pasti kenal. Bila tidak, saya sedikit ragu, apakah Anda pernah bersekolah atau tidak sebab Budi selalu ada di bangku sekolah. Ya, guru-guru bahasa terlalu sering mengambinghitamkan nama Budi di sepan kelas. Padahal Budi tidak bersalah. Kata orang, jangan balas budi karena Budi tidak bersalah. Halah, alay. Hehehe.

Akhirnya saya jadi tahu mengapa nama Budi sering disebut-sebut oleh guru di sekolah. Hal ini mengungkap fenomena Budi di Indonesia. Ternyata, nama terbanyak di Indonesia menurut BPS adalah “Budi”. Pantas saja dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di SD contoh namanya itu melulu. Gubrak!

Sebut saja Budi, alias Budiman, Budi Santoso, Budi Prasetya, Budianto, atau bahkan Budi Anduk, dan sekutunya yang lain. Nama-nama ini sering sekali kita jumpai. Maka tidak jarang si Budi menjadi nama terpopuler di Indonesia. Saya mohon maaf bila nama Anda ada dalam daftar tulisan ini. Bukan bermaksud menjelekkan, saya hanya ingin menyampaikan fakta tentang “Budi” yang sedang naik daun ini.

Apalah artinya sebuah nama. Itu pepatah orang dulu hingga sekarang. Jangan salah, nama itu penting. Bahkan dari menyebut nama, kadang seseorang bisa ditebak status sosialnya. Ini hanya kadang-kadang saja, tidak semua kasus. Yang pasti, nama itu penting. Bahkan sejak menunggu kelahiran bayi, para orang tua sudah jauh hari mencari nama untuk buah hati. Apalagi di dalam Islam, nama merupakan doa bagi anak-anak. Nama baik yang disandang seorang anak diharapkan kelak sesuai dengan kehidupan mereka ketika dewasa.

Persoalan nama itu penting. Perusahaan-perusahaan ternama tidak serta merta memberikan nama pada produknya. Bahkan nama perusahaan oleh para pengusaha tidak semudah memberi nama pada orang. Sebab nama memiliki filosofi.

Berkaitan dengan nama, ketika kuliah dahulu, dosen saya memberikan tugas agar setiap mahasiswa harus tahu arti dan makna nama kami masing-masing. Saya jadi ragu bisa menyelesaikan tugas tersebut sebab nama saya tidak berkaitan dengan apapun. Bahkan maknanya pun saya tidak tahu. Konon orang tua memberi saya nama Djulaifah yang diambil dari nama kakek. Tumbuh dan beranjak masa kanak-kanak, saya sering sakit maka digantilah nama saya oleh seorang dokter menjadi “Aswar”.

“Aswar” sebenarnya tidak memiliki makna. Tidak ada filosofinya. Maka, ketika ada yang bertanya arti nama saya, saya hanya membela diri dengan mengatakan “As” berarti Amerika Serikat, sedangkan “war” berarti perang atau memerangi. Jadi makna yang terkuak “Aswar” berarti seseorang yang kelak memerangi Amerika Serikat, hehehe. Namun, itu sekadar lelucon. Sebagian teman saya mengatakan, kata “Aswar” termasuk susah dilafalkan sehingga tidak jarang nama saya mereka ubah menjadi “Azwar, Azzuar, dan Aswad” Entahlah, bagi saya biasa saja.

Yah, apalah arti sebuah nama? Pertanyaan konyol ini tidak beralasan sebab manusia hidup butuh nama. Bukan hanya nama diri tetapi juga nama dalam pengertian yang seluas-luasnya. Perusahaan punya nama, buku-buku dan tulisan punya nama, kampus dan sekolah punya nama, mata uang punya nama, bahkan binatang melata pun punya nama.

Persoalan nama itu penting. Rumah sakit dan perusahaan yang memiliki nama internasional harus dipertanyakan kredibilitasnya bila tidak memiliki profesionalisme dalam hal pelayanan yang baik kepada pasien atau klien.

Begitu pentingnya sebuah nama hingga saya dan istri cukup sering mendiskusikan nama yang terbaik untuk buah hati tercinta. Bila stok nama memang sudah habis, ya terpaksa atau dipaksa, memakai si Budi juga no problem. Hehehe.

Berkaitan dengan pemberian nama, Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan bapak kalian, maka  perbaguslah nama kalian.” (HR. Ahmad)

Semoga bermanfaat.


Bicara soal kumis berarti bicara tentang perempuan. Eh, maksud saya laki-laki. Katanya, laki-laki berkumis idaman banyak lady, hehehe. Kumis menandakan kejantanan seorang laki-laki bukan kebetinaan. Kalau ada perempuan memakai kumis, wah patut dicurigai. Katanya, laki-laki berkumis itu pastilah ganteng, idaman perempuan. Oh, tunggu dulu. Berkumis tapi tidak terawat juga berantakan, bukan?

Jangan salah, kumis tidak hanya dimiliki oleh para laki-laki namun juga ada pada kucing. Bagaimana penampilan kucing tanpa kumis ya? Kucing, baik jantan atau betina, semua berkumis. Bahkan sejak lahir, kumisnya sudah tumbuh. Jadi, yang gantung bukan hanya laki-laki, hehehe.

Perhatian, tulisan ini tidak sepenuhnya mendukung orang-orang berkumis disebut ganteng mutlak, sebab banyak juga yang tidak berkumis tampil ganteng kok. Masalahnya, sudah kumis tidak tumbuh, ya jangan dipaksa-paksakan, hehehe. Kumiiiis, kumiiiis.

Dalam hidup, orang berkumis panjang digelari kumis terpanjang. Sebut saja Ram Singh Chauhan, seorang pria asal Jaipur, India yang oleh Guinnes World Record dinobatkan sebagai orang yang memiliki kumis terpanjang di dunia. Panjang kumisnya hingga 4,2 meter yang dirawatnya selama 32 tahun. Dalam rentang yang lama itu pun, dia tidak pernah memotong kumisnya.

Di dunia Barat sendiri, khususnya di New Orleand, Louisiana Amerika, kumis memiliki tempat di hati beberapa kalangan. Bahkan konteks kumis tidak jarang digelar untuk menunjukkan kebanggaan diri. Kontes kumis sendiri selama empat tahun terakhir terus diadakan. Wah, wah, wah, bagaimana “seramnya” kumis-kumis mereka, ya?

Saya justru heran, kenapa orang yang kumisnya tipis tidak mendapat gelar kumis terpendek? Oh, barangkali karena kumis tipis itu sudah umum, tidak istimewa. Ada juga orang yang image-nya kurang baik karena memiliki kumis tebal, panjang, plus kulitnya hitam. Kalau anak-anak kecil melihat, mereka langsung kabur, hehehe. Padahal, penampilan kadang tidak menggambarkan kepribadian. Semoga tafsir saya tidak keliru.

Tapi, by the way, kok jadi membicarakan kumis ya? Apa menariknya? Setidaknya saya ingin menyampaikan suatu hal tentang kumis yang saya harap dapat menyumbang pengetahuan baru bagi pembaca.

Kumis identik dengan orang dewasa walau kemungkinan beberapa remaja juga sudah mulai berkumis di usianya yang belia. Lihatlah anak-anak sekolah, khususnya sekolah menengah. Tidak jarang kita melihat mereka sudah berkumis. Hal itu menandakan mereka telah memasuki usia produktif untuk “berkembang biak”. Maksud saya, mereka sudah dewasa, hehehe.

Ayah saya juga berkumis. Nah, kisah kumis ayah inilah yang menginspirasi saya merangkai tulisan ini. Saya sering melihat ayah mencukur kumis dengan cermin kecil khusus yang sering beliau gunakan. Saya tidak pernah bertanya-tanya mengapa hal itu dilakukan. Bukan karena cerminnya tetapi karena keseringannya mencukur kumis. Itu pun tidak dipangkas semua. Biasanya hanya dicukur atau dirapikan agar bulu-bulu yang tumbuh di bawah hidung itu tidak melewati bibir.

Ternyata, setelah membaca literatur, saya pun menemukan jawabannya. Sebagai seorang muslim, kumis ternyata diatur juga dalam syariat. Walau tidak semasyhur jenggot, namun kumis punya aturan sendiri.

Kumis, yang notabene tanda kedewasaan, sebaiknya tidak dipanjangkan melewati bibir. Mungkin sering terlihat orang-orang berkumis yang kumisnya sampai bisa masuk ke mulutnya sendiri. Bahkan banyak yang bangga dengan kumis “belepotan”. Dalam ilmu fiqhi itu tidak baik.Pelihara kumis, potong, rapikan, jangan sampai melewati bibir, begitulah aturannya.

Ilmu agama saya termasuk minim, bahkan tidak pantas disebut ustadz. Background pengetahuan saya pun sangat jauh dan tidak bersinggungan dengan agama. Namun demikian, saya berharap apa yang saya tahu dari ilmu yang sedikit ini bisa memberikan pencerahan dan tentu berharap baik bagi kehidupan siapapun.

Nah, bagaimana penilaian Anda terhadap para pemelihara kumis? Semoga tulisan sederhana ini memberikan pencerahan. Silakan berkumis sebab saya juga berkumis. Yang penting niatnya ibadah, mengamalkan sunnah alias perintah Rasulullah, insya ALLAH berbuah banyak kebaikan.

Semoga tulisan ini tidak termasuk ekstrem apalagi disebut menggurui sebab banyak orang tidak sepakat dalam hal-hal tertentu yang bertentangan dengan kebiasaannya. Whatever, bergantung kita bagaimana membawa diri. Sebagai seorang muslim, saya yakin apapun yang diperintahkan oleh agama dan apapun yang dilarang, semua memiliki hikmahnya sendiri. Entah baik entah buruk bagi pelakunya. Saya pun mengamalkan sesuai dengan kemampuan saya.

Sebagai kesimpulan, maka tahulah saya bahwa Ayah saya telah lama mengamalkan sunnah Rasul yang mulai banyak ditinggalkan tersebut. Memotong alias merapikan kumis, misalnya. Walau saya sedikit ragu apakah Ayah tahu itu sunnah atau tidak, namun itu sudah menjadi kebanggan tersendiri bagi saya.

Semoga bermanfaat.



Seorang anak yang lahir beberapa pekan lalu terus menangis, menggertak kesunyian diiringi nyanyian nina bobo sang Ayah. Ya, begitulah. Hampir tiap malam, bahkan tiap tengah malam, tangisan bayi itu terus terngiang di telinga. Menghiasi kesunyian yang tak berkesudahan. Bahagia nian keluarga yang dikaruniai keturunan.

Anak, bagi orang tua merupakan harta paling berharga dalam hidup. Banyak pasangan yang bertahun-tahun hidup berumah tangga namun kehidupan mereka terasa sunyi, hampa, tanpa tangis bayi di rumah. Kendaraan mewah hingga rumah megah terasa tak punya arti tanpa anak. Apalah artinya hidup tanpa generasi?

Siapa gerangan yang tidak menginginkan keturunan? Semua pasangan, suami dan istri pastilah mendambakannya. Walau pada akhirnya, ada juga orang yang tidak ditakdirkan memilikinya. Ya, keluarga, tetangga, kawan, hingga sahabat sendiri, beberapa di antara mereka tidak atau belum memiliki anak. Semoga Allah lapangkan hatinya dan memberi mereka kelak keturunan yang baik-baik.

Setiap orang dewasa tentu pernah merasakan hidup sebagai bayi. Namun, siapa yang ingat masa itu? Saya sendiri tidak ingat bagaimana keadaan saya saat bayi. Bagimana saya menangis membangunkan Ibunda di tengah malam padahal hanya ngompol atau merengek meminta susu. Atau terisak-isak manja agar mendapat pelukan Ayahanda. Bahkan berkali-kali membuat Ayah dan Bunda terjaga karena “ngambek” tidak mau tidur hingga subuh.

Begitulah kehidupan masa bayi. Kini, mendengar bayi menangis di sebelah rumah, pikiran saya seolah digiring bernostalgia hidup sebagai bayi paling lucu sekampung, bahkan mungkin sedunia. Hidup seperti raja, hanya menangis, semua kebutuhan langusung dipenuhi orang tua. Bahkan mungkin, sesekali Ayah atau Bunda memaksakan diri berutang ke tetangga demi menghentikan tangis yang bertubi.

Dari lahir disambut tangis bahagia keluarga. Setiap orang memandang, saat itu pun berkali-kali pujian dialamatkan. Tak jarang doa-doa mereka lantunkan agar sang bayi tumbuh menjadi anak yang sehat, montok, lucu, saleh, dan sukses. Oh, betapa bahagia menjadi orang tua yang hari-harinya diindahkan dengan kehadiran pangeran atau puteri kecil di rumah tangganya.

Setiap bayi terlihat lucu dan menggemaskan. Inginnya mencium atau kalau tidak menyapih. Biar kecipratan bahagianya. Mengurus segala kebutuhannya terasa ringan walau hidup berkalung susah. Bagi sang Ayah, inginnya bersegera pulang kantror agar bisa bermain dengan bayi lucunya. Tidak jarang pula, perhatian Ibunda berkurang kepada Ayah demi melihat bayi mungilnya tersenyum atau melempar tawa. Ya, begitu senangnya punya anak.

Anda merasakannya? Ya, semoga. Saya pun belum merasakan bagaimana memiliki anak. Ingin rasanya masa itu segera tiba. Ketika anak lahir, orang-orang akan berkata bahwa dia mirip Ibu atau Ayahnya. Mungkin ada yang menyamakannya kepada kakek neneknya. Entah matanya, hidunya, bibirnya, atau bahkan lesung pipinya.

Tidak ada pasangan yang menolak anak bila “diberi” oleh Allah. Kehadirannyalah yang dinanti-nantikan. Tangisnyalah pemecah kesunyian dalam rumah tangga. Ya, semoga, semoga masa itu segera tiba. Masa ketika sang istri harus dilarikan ke rumah bidan atau dirujuk ke rumah sakit untuk segera bersalin. Masa yang dinanti selama berbulan-bulan atau bahkan ada yang menanti menghitung tahun. Masa untuk memecahkan tangis bahagia Ayah dan Bunda.

Belum memiliki anak? Janganlah berputus asa. Nabi Ibrahim dikaruniai anak diusianya yang tidak lagi muda, 90 tahun. Bahkan beberapa kasus, atau mungkin banyak kasus, seorang Ibu baru mengandung dan melahirkan anak pertamanya di usia senja. Hal itu tidak mustahil bagi Allah. Jadi, bersabarlah. Semoga kesabaran itu berbuah pahala dan mengetuk pintu langit.

Tangisan bayi itu selalu saja pecah. Itulah “pekerjaan” anak manusia. Namun demikian, para orang tua tidak pernah bosan mendengarkannya. Bagi mereka, tangisan bayi menjadi motivasi kehidupan untuk menjadi Ayah yang tangguh atau Bunda yang sabar, suplemen jiwa, dan pengubur gundah gulana.

Di awal tahun ini, di penghujung Januari 2014, dengan harap-harap cemas saya sedang menanti kehadiran tangis bayi. Tangisan seperti bayi yang selalu menggodaku di sebelah rumah milik Pak RT. Ya, Pak RT yang istrinya belum lama ini melahirkan anak ketiganya. Membuat saya cemburu. Cemburu karena juga mendambakan lahirnya bayi dari rahim istri tercinta. Bayi yang setiap waktu didoakan kebaikan hidupnya. Bayi yang diimpikan kelak menjadi penghapal dan pengamal Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi. Bayi, yang dari kerja kerasnya kelak melahirkan umat-umat terbaik di masanya. Bayi yang tidak dimiliki oleh semua orang di muka bumi. Ya, semoga.

Rabbi ‘hablii minas-shaali’hiin. Allahumma aamiin.

Ayah menantikanmu, Nak!


Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!