"Setiap orang memiliki bakat, namun jarang bakat itu disertai keberanian untuk mengeksplorasinya semaksimal mungkin.” _Erica Jong
  
Di sekolah kehidupan (meminjam istilah Andrias Harefa), bagi banyak orang, termasuk para guru, menulis merupakan pekerjaan tangan yang sangat sulit dilakukan. Keinginan menelurkan karya merupakan hal yang tidak terbantahkan bahwa setiap orang, umumnya kalangan yang memahami arti pentingnya ilmu pengetahuan, ingin menciptakan karyanya sendiri. Entah bagi pemenuhan dahaga intelektualnya atau untuk sekadar tampil sebagai orang yang agar tidak disebut manusia mubadzir dari kampus-kampus almamaternya.

Produktvitas menulis, seperti juga pisau yang bila tidak sering diasah akan tumpul. Tentu saja dengan membiasakan diri berkarya akan semakin menajamkan pisau pena yang ada di kepala sehingga buah-buah yang bersumber dari ide-ide cemerlang bisa dipetik oleh penggagasnya. Hal sebaliknya bisa terjadi bilamana pisau yang kita miliki tidak pernah atau jarang diasah menyebabkan kemandegan berkarya yang kronis.

Bicara tentang menulis dan produktivitasnya, walau tidak pernah mendapat pengakuan sebagai guru produktif dalam menulis setidaknya kita bisa lihat antusiasme menulis yang ditularkan oleh sosok guru bernama Agus Hermawan. Tak dapat dipungkiri bahwa menulis bisa membawa seseorang pada “kedudukan” di luar jangkauan berpikirnya. Apatah lagi bila si penulis tak pernah menduga bahwa masyarakat akan menerima ide-idenya melalui tulisan yang dibuatnya.

Agus Hermawan, satu dari sekian banyak guru di Indonesia mencoba merangsang kita untuk berkarya. Dalam pengertian, siapapun bisa menembus batas kebuntuan ide untuk menciptakan karya-karya sederhana dari pengalaman hidup sehari-hari tanpa merasa sangat sibuk sehingga mudah berdalih tidak punya waktu apalagi tidak punya gagasan untuk diterjemahkan dalam buah pena. Pikiran kolot demikian bisa jadi hambatan untuk bisa menunjukkan eksistensi diri dalam berkarya.

Untuk menembus batas kebuntuan ide dalam menuliskan gagasan yang bersarang di kepala, saya mencoba mencari tahu kepada beliau melalui perbincangan-perbincangan santai saat bertandang ke rumahnya beberapa waktu yang lalu. Saya penasaran dan ingin segera mengetahui resep cespleng menulis buku langsung dari orangnya. Tanpa maksud meninggikan nama beliau melalui tulisan, setidaknya bisa menjadi bahan pembelajaran bagi guru-guru atau pun masyarakat yang ingin belajar menulis.

Saya cukup kaget, sewaktu perbincangan pagi hari di rumah beliau, saya disuguhi tumpukan naskah yang sudah di-print. Di atas meja ada sekitar empat naskah tebal yang konon ditulis di waktu-waktu senggang. Melihat sepintas naskah yang tebal membuat saya terkesima, bahkan mungkin bagi banyak orang adalah hal yang luar biasa. Siapa sangka, tulisan yang ada dalam naskah tersebut merupakan buah pikiran dari pengalamannya sehari-hari. Beberapa gagasan ada juga yang dipetik dari sumber-sumber buku yang pernah beliau baca. Saya jadi berpikir, naskah buku yang tidak bisa dianggap sederhana seperti itu tidak mungkin bisa ditulis oleh banyak orang. Apalagi bagi orang yang minderan dalam berkarya.

Isi tulisannya nyentrik, mengalir, semangat berkaryanya luar biasa. Membacanya seolah merangsang untuk bangkit berkarya. Andai saja orang-orang yang memiliki gelar pendidikan tinggi membacanya, ia tidak akan habis-habisnya mencaci maki kualitas tulisan dari segi tata bahasa atau kebakuan Ejaan Yang Disempurkan dalam naskah tersebut. Padahal, naskah-naskah yang menumpuk itu dilahirkan bukan karena mengikuti kebakuan bahasa oleh semangat dan antusiasme berkarya, kegigihan untuk menularkan kebaikan, memberi.

Menyoal kualitas tulisan, banyak orang menyangka bahwa tulisan yang baik dan hebat itu adalah tulisan yang tata tertib bahasanya sesuai kamus lembaga formal. Padahal, yang disebut menulis, apalagi menulis bagi pemula bagi saya tidak pernah dan semestinya tidak perlu menggunakan rumus bagus atau tidaknya karya yang dihasilkan. Yang paling penting adalah keberanian untuk berkarya, menuliskan sebanyak mungkin gagasan yang kita miliki. Bagaimana mungkin seseorang bisa hebat bila tidak dimulai dengan keberanian mencoba.

Telah lama saya “terkubur” oleh bayang-bayang takut berkarya karena kualitas tulisan saya sangat buruk. Namun, membaca dan menggali ilmu dalam naskah-naskah yang menumpuk di rumah Pak Agus membuat saya sadar. Mematok diri tidak kompeten adalah kesalahan yang fatal. Oleh karena itu, saya tertantang untuk lebih gigih berkarya, walau tulisan bungkusan kacang sekalipun.

Menantang diri, ketika Pak Agus meninggalkan saya sendiri di rumah beliau sekitar tiga jam, saya mencoba merangkai satu artikel sederhana untuk kemudian saya meminta agar beliau menagih saya saat pulang nanti. Hasilnya? Oh, ternyata dengan menantang diri, dengan pemaksaan diri yang sedikit njlimet saya bisa menuntaskan tiga halaman artikel sederhana hingga beliau kembali. Suatu hal yang baru bagi saya. Saya jadi tahu, ternyata kreativitas menulis itu bisa juga dimulai dengan menantang diri sendiri.

Dari pertemuan singkat dengan Pak Agus, saya jadi banyak ide dan semakin “terangsang” untuk bercumbu dengan gagasan-gagasan yang selama ini “menganggur” di kepala saya. Saya butuh banyak belajar. 

Dari persahabatan dengan sosok Agus Hermawan yang seorang guru Kimia di salah satu sekolah negeri di Kota Bandung itulah saya banyak kecipratan jurus sakti menulis. Bahkan karena keranjingan menulis beliau bisa berbagi ilmu melalui buku-buku yang telah ditulisnya; (1) Agar Otak tidak Beku Ajaklah Berselancar, (2) Belajar dari (Model) Kehidupan, (3) Jangan Caci Maki Kegelapan Nyalakanlah sebatang Lilin, (4) Menjadi Guru Cerdas dan Menginspirasi, dan (5) Agar Guru Mau dan Mampu Menulis (Buku). Luar biasa.

Agus Hermawan di mata saya adalah sosok guru yang patut diacungi jempol. Guru yang banyak menginspirasi, suka menulis walau usia beliau tidak bisa dibilang muda lagi, namun semangat mudanya menunjukkan eksistensinya sebagai guru yang produktif. Prototipe guru yang patut jadi teladan bagi guru-guru yang banyak ilmu namun mandul berkarya. Dengan pemaksaan diri, krativitas berkarya bisa dimunculkan. Mungkin itulah resepnya.

Sebagai penutup, kata-kata bijak dari James Allen semoga dapat menjadi bahan renungan. “Semua urusan manusia melibatkan usaha dan hasil. Kegigihan dalam berusaha adalah ukuran untuk meraih hasil itu.” Agus Hermawan telah membuktikannya.

Semangat, dan tetaplah berkarya!

Menabung di bank ide telah kita bahasa pada artikel sebelumnya. Pada tingkat lanjut kita masih berbicara mengenai bank ide tersebut, namun lebih menekankan pada masalah kemandegan, kebuntuan, alias saat ide mentok.

Setelah ide ada, sudah ditulis pula, pada segmen penulisan kita seringkali menemui kebuntuan. Ide ada tetapi tidak bisa ditulis sampai tuntas sehingga tulisan seperti pincang karena semua ide yang bersemayam di kepala tidak dapat dikeluarkan. Kebuntuan ide. Ini lebih popular dikenal dengan writer’s block. Kondisi seperti ini banyak dialami oleh para penulis, baik pemula maupun profesional. Hampir dipastikan semua penulis pernah mengalami gejala ini. Bila tidak, boleh jadi mereka adalah penulis yang benar-benar langka di dunia ini. Mengapa hal seperti ini (kebuntuan ide) bisa terjadi? 

Mengenai kebuntuan ide ini, kemungkinan terjadi karena beberapa sebab berikut:
  • Penulis memiliki perbendaharaan kata yang relatif sedikit sehingga kesulitan mengalirkan kata-kata. Umumnya dialami oleh penulis pemula. Tenang, anda dapat mengatasinya bila terus mengasah kemampuan menulis dengan banyak berlatih dan banyak membaca;
  • Literatur atau referensi kepenulisan sangat minim sehingga tidak mencukupi kebutuhan dalam mengalirkan ide. Kemungkinan besar terjadi (pula) karena penulisnya kurang (sekali lagi) membaca;
  • Tulisan yang memuat ide tidak dilakukan dengan fokus sehingga tulisan berkembang terlalu luas dan berakibat, apa yang hendak disampaikan tidak bisa tuntas karena tulisan menyasar ke segala penjuru. Hasilnya? Penulis bingung sendiri kapan bsa menyelesaikan tulsiannya. Inilah pentingnya membuat outline atau kerangka tulisan.
  • Topik tulisan tidak dikuasai sepenuhnya sehingga dibutuhkan kerja keras yang ekstra untuk menuntaskan tulisan. Menulis dengan gaya ini membutuhkan ‘persediaan’ yang matang.
Untuk mencegah masalah tersebut terjadi, biasakanlah berhenti sejenak dari kegiatan menulis Anda. Berjalanlah ke sekitar halaman rumah. Lihat pemandangan yang asri, mengobrol dengan teman, atau ber-SMS dengan sahabat. Ada penulis yang menyiasati kebuntuan ide ini dengan menghentikan kegiatan menulisnya kemudian membaca buku-buku apa saja sekadar mengobati kebuntuan idenya. Biasanya setelah rehat sejenak, pikiran kembali segar dan ide-ide pun kembali bermunculan. Anda dapat menyiasatinya sesuai aktivitas yang anda senangi. Apapun itu.

Istilah bank ide sendiri saya dapatkan setelah membaca sebuah literatur -sayangnya saya lupa judulnya- yang digagas oleh seorang penulis. Bank ide ini adalah otak kita yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap informasi. Apalagi hanya sekadar menabungnya. Sayangnya, tidak banyak jumlah orang yang dapat menggunakan otaknya sebagai penyimpan informasi yang baik. Faktor sering lupa adalah hal yang sangat dominan sebagai alasan. Itu wajar dan normal saja. Saya pun sering mengalaminya. Begitu banyak ide yang berkejaran di ranah otak, sampai bertumpuk-tumpuk. Belum sempat ditangkap, eh yang lain datang menyerbu. Seolah tidak ada habisnya. Nah, kita tinggal memilih ide yang baik, yang punya kekuatan, yang menarik untuk ditulis.

Menyiasati tidak efektifnya menggunakan kepala anda (baca: otak) sebagai bank ide, anda dapat membuat sebuah catatan tersendiri mengenai ide-ide anda. Biasakan membawa kertas catatan saat bepergian. Siapa tahu –dan ini lebih sering- saat anda jogging, tamasya, atau makan enak di restoran, ada ide terlintas yang menggoda. Langsung ditulis saja. Torehkan ke dalam catatan. 

Menurut guru saya di sekolah dahulu, begitu ada ide langsung dicatat saja supaya tidak hilang atau tiba-tiba terserang penyakit lupa. Memang tidak jarang alias sering kita kedatangan tamu (baca; ide), namun karena tidak dilayani, tamu-tamu itu pergi entah ke mana. Anda sering mengalaminya? Jika iya, maka catatlah segera.

Masa bodoh apakah ide itu oke atau buruk. Tulis saja. Kumpulkan. Simpan atau tabung ke rekening buku tabungan anda. Ada penulis yang hanya menulis satu kata pada lembaran kertas kosong, atau beberapa kalimat di komputernya sekadar mengikat idenya. 

Apakah ide itu akan jadi tulisan yang berkualitas atau sebaliknya, urusan selanjutnya. Saya sendiri punya bank ide yang jumlahnya tidak sedikit –buku-buku khusus untuk mencatat ide. Ada juga buku khusus untuk membuat outline buku-buku yang akan ditulis- untuk mengabadikan ide-ide cemerlang. Saya tidak tahu apakah ide itu nantinya akan menjadi tulisan yang baik atau tidak. Tetapi yang paling penting saya merasa puas karena menghargai tamu saya dan mengajaknya masuk ke beranda rumah saya. Mudah-mudahan Tuhan memberikan balasan yang baik atas sikap saya menghargai dan menjamu tamu saya itu. Siapa tahu semua itu adalah ilham yang dianugerahkan Tuhan untuk saya. Saya hanya menerimanya dan memperlakukannya dengan baik. Semoga itu masuk dalam bagian rezeki saya, hehehe.

Nah, bagaimana dengan anda? Sudah punya bank ide? Bisa juga menggunakan papan tulis khusus untuk mencatat ide yang datang tiba-tiba. Tempelkan di dinding kamar anda, atau tepat di belakang pintu sehingga sebelum keluar, siapa tahu ada yang perlu dicatat. 

Ide yang telah ditulis itu dapat menghemat waktu untuk berpikir lebih dalam memikirkan atau mengundangnya kembali ketika membutuhkannya. Kalau tidak dicatat, akan repot sendiri nanti.

Yap, mari kita buat bank-bank ide. Boleh juga membuka ‘cabang-cabangnya’ sesuka hati anda. Tidak ada yang akan melarang apalagi yang melaporkan ke pihak berwajib karena bank anda adalah bank legal milik pribadi. Anda harus egois dalam masalah ini karena anda adalah penabung tunggal, anda pula manajernya. Anda akan kaya dan memiliki harta yang bisa digunakan kapan saja dibutuhkan. 

Entah sudah berapa banyak cabang bank yang telah saya buka. Mungkin kalau mau sedikit sombong, saya bisa dibilang manajer sebuah bank, hehehe. Bagaimana dengan Anda?

Dari mana memungut ide? Sebuah pertanyaan yang sudah membumi di hati para penulis (pemula). Ini pula salah satu alasan klasik mengapa menulis dikatakan sangat sulit. Tidak ada ide, kekurangan ide, ide mandeg, ide tak kunjung datang, dan sejumlah alibi untuk menunda-nunda menulis. Padahal, kalau mau jujur ide ada di mana-mana, bertebaran di sekeliling kita. Hanya butuh kepekaan diri untuk menangkap signal ide itu. 

Tentu tidak semua ide yang kita jumpai, baik yang terlintas di pikiran, dilihat oleh kasat mata, atau disentuh oleh kasarnya tangan, dapat diramu menjadi sebuah tulisan yang baik dan bermutu. Syarat untuk menangkap ide yang ‘cantik’ adalah cintai kegiatan menulis, maka ide-ide yang ‘cantik’ itu akan mendatangi anda dengan riangnya. Percaya atau tidak, bisa anda pertimbangkan dengan mecobanya. 

Memang tidak mudah menyulap lingkungan kita menjadi lautan ide. Ide itu didatangkan oleh pikiran yang jernih nan peka alias sensitif terhadap situasi dan kondisi. Ide bisa datang dari mana saja tanpa diundang sekalipun. 

Ide bisa muncul ketika melihat para gelandang di emperan jalan kota-kota besar, ketika menyaksikan film di bioskop atau televisi, ketika mendengar cerita dari teman, ketika sedang darmawisata ke tempat rekreasi melepas lelah, ketika sedang membaca buku, ketika nongkrong di pinggir jalan, ketika menemani pengamen bernyanyi riang gembira, ketika antri membeli tiket di loket kereta api, ketika mendengar suara-suara ‘berisik’, ketika sedang rapat atau meeting di kantor-kantor, ketika sedang menerima telepon teman atau sahabat, ketika berselancar di internet, ketika melihat foto-foto kenangan masa muda, dan mungkin saat malas menghadiri undangan, ketika sedang terbaring di atas kasur empuk (juga tikar yang kasar, lho).

Di samping itu, ide dapat diperoleh ketika menunggu datangnya kantuk, ketika menghadiri undangan pernikahan seorang sahabat, ketika kecopetan di jalan raya, ketika melihat anak kecil menangis diganggu temannya, ketika menunggu ibu memasak di dapur, ketika begadang sampai subuh, bahkan ketika sedang mengejar maling, dan ketika-ketika lainnya. Emmm, banyak sekali ya, sumber dan pemicu ide itu. Bahkan bagi penulis yang sudah punya ‘nama’, sumber ide adalah segala sesuatu di alam raya ini.

Yang terakhir, barangkali ide juga bisa muncul ketika membaca tulisan yang terlalu cerewet ini, hehehe.

Anda tentu sudah paham dengan baik bagaimana memperoleh ide. Hal yang harus diingat dan dilakukan, tentunya adalah segera mengabadikan ide yang datang secepat kilat itu. Caranya, tulislah sesegera mungkin. Ada banyak kendala kemudian bila ide yang datang menyapa tidak segera ditulis, walaupun dengan coretan-coretan tangan biasa.

Betapa sering kita mendapatkan ide di jalan-jalan, tetapi karena tidak segera menulis atau mencatatnya, secepat kilat ide itupun hilang di telan bumi. Bila mau mengandalkan ingatan dengan kekuatan otak yang luar biasa juga tidak ada salahnya. Namun, sangat disarankan untuk mencatatnya karena kebanyakan manusia sebagai sifat manusiawinya, lebih mudah lupa bila mencatatnya di dalam kepala. Hal seperti ini sudah banyak melanda para penulis. Bahkan penulis-penulis profesional, yang menjadikan menulis sebagai kegiatan utamanya, kerapkali dilanda masalah serupa.

Lautan ide. Alam ini adalah hamparan ide bagi para penulis. Alangkah meruginya para penulis yang kehabisan ide. Bila demikian, perlu sebuah pertanyaan yang perlu dijawab. Sudah bosankah menjadi penulis sehingga ide saja dikatakan habis? Bila tidak dapat memungut ide, ya, berhenti dan urungkan niat menjadi penulis. Menulis itu butuh komitmen. Komitmen dibangun dari kesadaran bahwa menulis adalah sesuatu yang penting dan mudah atau dapat dilakukan oleh sipa pun. Sedangkan bumbu yang paling sedap bagi kegiatan menulis adalah ide. 

Bila ide sudah tidak ada, ya berarti sama saja tidak ada tulisan. Walau banyak tulisan yang dirangkai dengan kalimat-kalimat tertata rapi, tapi kalau isinya ‘tanpa’ ide, sama saja bukan tulisan. Mungkin berbentuk tulisan tapi isinya kosong karena tidak ada ilmu di dalamnya. Ide yang dimaksud di sini adalah ruh tulisan. Apa yang akan disampaikan dalam tulisan kita. Itulah bumbunya. Dan yakin, bahwa dengan membubuhinya dengan bumbu yang lezat, akan mengundang semakin banyak orang untuk menikmati tulisan kita. Itulah ide. Pilih ide yang ‘menggigit’ kemudian perhatikan, tulisan anda akan dilahap para pembacanya.

 
Awal bulan September 2013 kemarin, saya mengunjungi sebuah toko buku ternama di bilangan Cibubur, Jakarta Timur. Saya bersyukur karena toko buku ini akhirnya buka perdana setelah sekian satu tahun saya menantikannya. Saya memang bukan penduduk asli sehingga saya jarang berkeliling kota untuk sekadar memanjakan hobi membaca dan melihat-lihat buku di rak-rak toko buku.

Sebuah pengalaman menarik ketika saya akhirnya sampai pada toko buku yang saya tuju. Hal pertama yang saya lakukan selama bertahun-tahun menekuni hobi melirik buku adalah memutar kepala dan mata, menelusuri rak-rak buku nonfiksi. Mungkin itu merupakan efek karena saya lebih suka menulis secara ilmiah walau berbentuk artikel sederhana daripada menulis fiktif alias imajinatif.

Bila sudah di toko buku, pikiran saya tertuju pada sedikitnya dua jenis buku; buku motivasi atau buku cerita. Bahkan sesekali saya mencoba membuka lembaran-lembaran buku baru bergenre apa saja. Sebab biasanya buku yang baru terbit di tempatkan pada rak paling depan agar mudah dilihat oleh pengunjung yang masuk.

Mengingat saya sangat bergairah menulis artikel-artikel motivasi tentang menulis, maka langkah saya pun berhenti di depan tumpukan buku yang terbilang tidak murah, ya buku-buku motivasi yang harganya selangit. Saya tersentak melihat sebuah buku yang unik. Pada cover-nya bertuliskan judul yang juga unik: JANGAN DIBUKA dan blablabla. Untuk menjawab rasa penasaran saya, buku berwarna hijau kebiru-biruan itu pun saya buka. Gubraaak! Wallah, ternyata sekitar 90 persen halamannya berwarna putih suci, seperti putihnya bendera bangsaku, Indonesia.  Buku yang ditulis oleh seorang perempuan non-Indo itu mengejutkan saya. Tidak satu pun kalimat berbaris yang bisa saya baca sebab buku itu ternyata buku diary, yang kata penulisnya diary suka-suka.

Mungkin judul buku itu menjadi pesan bagi pembeli atau penikmat buku bhawa bila anda membuka buku tersebut maka anda akan terkejut karena tidka menemukan kalimat-kalimat yang bisa dibaca. Benar, dan saya terjerembab dalam perangkap judul itu.

Saat pulang, saya masih penasaran, kok bisa ya buku seperti itu diterbitkan. Malah diterbitkan oleh penerbit berkelas pula. Lalu saya bayangkan, kalau saya menulis buku seperti itu apa bisa juga diterbitkan? Walaaah, bisa gila penikmat buku di dunia.

Nah, belajar dari pengalaman yang menggelitik itu, saya akhirnya berpikir, kalau buku "sehebat" itu bisa diterbitkan dan menjadi rival buku-buku berkelas di toko buku, tidaklah mungkin hilang harapan hadirnya buku-buku yang memiliki mutu yang lebih baik. Kalau sekadar mengandalkan nama penulis, itu sama saja membodohi pembaca. Ada baiknya kita menulis ide-ide sederhana dengan harapan dapat bermanfaat bagi banyak orang. Ya, walau tulisan, rasa, dan nilai jualnya murah, yang penting manfaatnya. Itu langkah awal memulai sebuah kreativitas menulis untuk unjuk gigi.

Wong, buku diary saja bisa diterbitkan penerbit berkelas, masa kita tidak bisa menembus penerbit? Ayo, kita lebih semangat menulis. Semoga pengalaman ini bisa menjadi pembelajaran agar kita semakin tekun berkarya sebab ternyata menulis buku itu mudah.




Menulis artikel? Mudah. Semudah membalik telapak tangan. Ya, syarat dan ketentuan pasti berlaku. Itu mutlak sebab berkarya butuh “modal”, modal yang banyak. Ingin jadi apa kita ke depan, semua dimulai hari ini, saat ini, saat kita membuka mata, melihat dunia. Termasuk ingin menulis apa kita hari ini? Begitu kehidupan ini berposes dari satu titik ke titik yang lain hingga terangkai dalam deretan kata dan kalimat yang padu menjadi maha karya yang menyegarkan kehidupan.

Anda goblok? Seberapa goblok? Sangat goblok? Namun saya tetap ragu, saya yakin anda bisa melakukan sesuatu yang terbaik, sumbangan positif bagi kehidupan yang anda jalani. Positif bagi kehidupan sendiri, keluarga, sahabat, dan lingkungan. Positif bagi bangsa, negara, bahkan agama. Ya, saya yakin itu, sebab orang idiot pun dapat berkontribusi besar bagi kehidupan mereka dan orang-orang terkasih di sekitarnya.

Orang lahir di dunia punya potensi. Potensi untuk berhasil namanya. Potensi untuk menyalurkan sebanyak mungkin unsur-unsur baik dalam dirinya. Anak kecil, dari sejak bayi hingga berjuang untuk mampu berjalan dan berlari mengejar mimpi, mereka bisa berdiri gagah menantang kehidupan yang tidak ramah. Namun, mereka tetap eksis, mereka memiliki eksistensi bahwa mereka bisa hidup dalam keadaan apapun, bagaimana pun , dan di manapun. Sebab, mereka telah dijamin kehidupannya oleh Tuhan, Allah yang Maha Menjaga ciptaan-Nya. Dan dengan modal itulah mereka menyalurkan potensi pada pos-pos kehidupan yang membahagiakan yang kemudian disebut keberhasilan

Terkait itu semua, saya ingin meloncat ke satu sisi kehidupan manusia perihal keberanian. Keberanian untuk berkarya sebab mereka memiliki skill itu. Saya percaya bahkan yakin, setiap manusia memiliki mutiara dalam dirinya. Yang dengannya ia bisa memberi sebanyak-banyaknya bagi kehidupan orang-orang yang dicintainya. Sebut saja menulis, menulis tentang kehidupan mereka. Anda bisa menulis? Mari kita ulas.

Menulis merupakan salah satu dari beberapa kemampuan cipta manusia yang dianugerahkan oleh Tuhan. Dengan menulis, orang yang gagah berani, berkemauan keras, serta berkehidupan yang gigih mampu menciptakan sejarah. Sejarah dalam kehidupannya dan kehidupan bangsanya. Berapa banyak orang yang telah menciptakan sejarah hanya dari sepuluh jari tangan yang mereka miliki? Banyak, banyak sekali.

Bila kita yakini itu, semestinya dalam menulis hal-hal sederhana seperti artikel pun kita mampu melakukannya. Sebab hal yang lebih menggugah dari itu telah mampu digagas oleh para pendahulu kehidupan ini. Lalu bagaimana memulainya? Mudah, miliki ide, ambil kertas kemudian tulis. Tuntaskan. Jangan sisakan syak wasangka dalam jiwa dan pikiran, salurkan semuanya. Pada titik jenuh, kita akan sampai pada koma, titik dan tanda baca sesungguhnya. Selesai. Begitulah menulis, menulis demikian sederhana.

Dari cara yang sedikit njlimet itu, manusia bisa berkarya dengan tangan mungil mereka. Tangan yang dengannya mereka bisa menciptakan mimpi menjadi kenyataan. Tangan yang melahirkan karya bukan sekadar angan-angan.

Ya, barangkali saya terlalu jauh melangkah dalam kata dan kalimat yang Anda baca ini. Tapi jangan keliru, dengan itulah saya mampu membuat anda terus membaca hingga sampai pada akhir alinea ini. Mengapa, sebab hal itu pula yang mendorong saya untuk mengatakan bahwa menulis artikel itu mudah, semudah bercerita. Dan sadarkan anda bahwa sesungguhnya saya sedang menggiring pikiran anda dalam sebuah cerita yang saya buat dalam tulisan ini? Bila tidak, maka bangunlah karena kita telah sampai di ujung alinea.

Ini artikel sederhana. Ditulis dengan mengalir, melalui cara goblok orang yang goblok. Jadi, untuk menulis seperti ini kita hanya butuh keberanian untuk memulai, dan pada akhirnya tuntaslah apa yang ingin saya sampaikan yakni menulis artikel (yang sederhana) dapat dilakukan dengan gaya bercerita. Masih belum yakin? Cepat bangunlah karena cerita saya telah berakhir dan artikel inilah hasilnya. Mudah, bukan?

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!